Iklan

LEGENDA Meriam Lada Sicupak

Minggu, 11 Februari 2018, Februari 11, 2018 WIB Last Updated 2018-04-10T13:01:05Z
Meriam Lada Sicupak





Arnhem- Anda orang Aceh?, tentu pernah mendengar tentang cerita meriam lada sicupak, ceritanya begitu melegenda, yang diceritakan secara turun-menurun dari generasi ke generasi, tapi pernahkah anda melihat meriam lada sicupak ?
Foto Tarmizi Bey.
Add caption
Meriam Aceh yang pecah saat perang.

Saya meyakini hanya sedikit orang Aceh yang hidup di zaman Now ini pernah melihat meriam lada sicupak asli,  jangankan melihat atau memegangnya, melihat foto asli nya pun saya menjadi ragu?


Sesungguhnya meriam lada sicupak itu sudah tidak ada lagi di Aceh, meriam pemberian Sultan Turky untuk Kesultanan Aceh tersebut, sudah sejak abad lalu dibawa kabur Belanda kenegaranya, kini meriam yang ditukar dengan secupak lada oleh utusan Aceh kepada Sultan Turky, berada tepat dipintu masuk musium Bronbeek-Belanda.


Meriam sepanjang 5,7 meter, dengan berat 6 ton itu, telah ditempelkan maklumat Ratu Belanda dalam bingkai  kaca, ditempel tepat didekat moncong meriam pemberian Turky kepada rakyat Aceh itu.


Musium Bronbeek terletak dikota Arnhem-Belanda, hampir seisi musium ini memamerkan peralatan perang  Aceh, mulai dari meriam, dari yang jumbo hingga yang kecil, senapan panjang, rencong, baju perang, hingga jimat pejuang Aceh dipamerkan.
Foto Tarmizi Bey.
Jimat Pejuang Aceh.

Terdiri dari dua lantai, pada lantai pertama dipajang meriam-meriam perang milik Aceh berbagai ukuran, dilantai dua dipajang meriam dengan ukuran lebih kecil, didalam lemari kaca lantai dua dipajang senjata-senjata serbu milik pejuang Aceh.


Berbagai jenis jimat dipajang dalam lemari kaca, tak ketinggalan baju perang dari bahan kulit Tringgiling juga diboyong Belanda, untuk mereka pamerkan kepada dunia dari masa-kemasa.
Foto Tarmizi Bey.
Baju Perang Tentara Aceh.

Meski didominasi oleh peralatan perang Aceh, musium Bronbeek juga memamerkan barang-barang dari wilayah lain Indonesia, baik berupa foto masa lalu kota Jakarta, maupun baju tradisional, tempat tidur, dan peralatan dapur dari Indonesia lainnya tempo doeloe.


Saat mengunjungi musium ini, saya dipandu oleh seorang konsevator bernama J.L.P.(Hans) Van den  Akker, dia fasih berbahasa Indonesia, meski sebagai petugas musium, sayangnya  Hans tak begitu paham tentang sejarah peralatan perang Aceh itu.
 Foto Tarmizi Bey.
Meriam Dari Benteng Bate Ileik (paling depan warna kuning)

Terpaksalah saya yang harus menjelaskan bagaimana asal usul meriam lada sicupak, Hans hanya menjelaskan tentang sebuah meriam yang mereka rampas dari benteng Bate Ileik, dan sebuah buku anggaran perang Belanda saat berperang dengan Aceh, "Ini perang paling mahal Belanda," kata dia.
Foto Tarmizi Bey.
Buku Anggaran Perang Belanda-Aceh.

Reaksi Aceh.

Kadisbudpar Aceh Reza Fahlevi ketika ditanya soal keberadaan meriam milik Aceh di Belanda, mengatakan mereka akan melakukan komunikasi dengan pengelola musium Bronbeek, agar masyarakat Aceh lebih mudah mengakses ke peninggalan sejarah itu.

" Kita perlu komunikasikan, terutama untuk edukasi terhadap barang-barang dan artefak yang berada di Belanda, kita juga telah digitalisasi manuskrip yang ada disana."

Ketika ditanya apa ada kemungkinan Aceh ingin meminta kembali barang bersejarah itu,  Reza Fahlevi mengatakan mereka belum pernah membicarakan, namun dengan Belanda tetap ada komunikasi terutama soal Kherkoof.

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+