Ads (728x90)




Banda Aceh-Dinas Kesehatan Aceh mengadakan Workshop Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Se-Aceh di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh selama 3 hari, dari 19-21 Agustus 2019. Kegiatan yang mengambil tema “Menuju Aceh Sehat Mandiri Berkeadilan, Bermartabat dan Islami” ini diikuti oleh 70 peserta tenaga kesehatan bidang promosi kesehatan dari 23 kabupaten/kota seluruh Aceh.

Acara pembukaan digelar pada Rabu, 19 Agustus 2019 dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Ferdiyus S KM M Kes, dan turut didampingi Kasie Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh Yusrizal, S KM M Kes.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya, Yusrizal, S KM M Kes (Kasie Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh) dengan judul “Peran Profesi Promotor Dalam Peningkatan Kualitas Pengelola PKRS”, Edi Hidayatsyah, MT (Kasie Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Aceh)  dengan judul “Peran dan Kerjasama Rumah Sakit Dalam Upaya Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit” yang tampil pada hari pertama.

Selanjutnya, drg Efi Syafrida M Kes (Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh) dengan judul “Dukungan Regulasi dan Peran Promosi Kesehatan Rumah Sakit Dalam Menjaga Mutu Layanan Kesehatan Rumah Sakit”, dr Riskiyana S. Putra, M Kes ( Direktur Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI) dengan judul “Kebijakan dan Strategi promosi kesehatan Rumah Sakit dalam Pembangunan Kesehatan Nasional”.

Suparman Lisda, S KM M Kes (RSUDZA) dengan judul “Penerapan Standar Manajemen Komunikasi dan Edukasi Serta Desain Pembelajaran Komunikasi Efektif Rumah Sakit”, Cut Eka Putri Ubit, SKM (RSUDZA) dengan judul “Tata Kelola Pelayanan PKRS Sebagai Reorientasi Pelayanan Kesehatan”.

Pada hari terakhir menampilkan dr Hasnani, M Kes (Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh) dengan judul “Peran Fasyankes dan Petugas Promkes dalam Pemberdayaan Pasien dan Keluarga”, serta Yusrizal, S KM M Kes dengan judul “Kemitraan  Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan dalam Promosi Kesehatan” dan diakhiri dengan penyusunan rekomendasi.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Ferdiyus S KM M Kes mengatakan Promosi Kesehatan di Rumah Sakit adalah upaya Rumah Sakit untuk meningkatkan kemampuan pasien, klien, dan kelompok-kelompok masyarakat.

“Seperti antara lain, agar pasien dapat mandiri dalam mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya, klien dan kelompok-kelompok masyarakat dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan, “ katanya.

Lalu, mencegah masalah-masalah kesehatan, dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama mereka, sesuai sosial budaya mereka, serta didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan, jelasnya.

“Dengan tujuan terciptanya masyarakat Rumah Sakit yang menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku pasien atau klien Rumah Sakit  serta, pemeliharaan lingkungan Rumah Sakit dan, termanfaatkannya dengan baik semua pelayanan yang disediakan Rumah Sakit, “ paparnya.

Ditambahkannya, dengan sasaran Promosi Kesehatan di Rumah Sakit adalah masyarakat di rumah sakit, yang terdiri dari petugas, pasien, keluarga pasien, pengunjung masyarakat yang tinggal atau berada di sekitar rumah sakit serta Organisasi Rumah Sakit harus memiliki kebijakan tertulis untuk PKRS.

“Kita berharap agar seluruh Rumah Sakit di Aceh memiliki bagian Promosi Kesehatan Rumah Sakit, bagi Rumah Sakit yang belum memiliki PKRS agar segera membentuknya setelah mengikuti kegiatan workshop ini, “ ucapnya.

Semua Rumah Sakit Harus Ada PKRS

Sementara itu, Ketua Panitia Edi Bakhtiar, S KM M KM menjelaskan tujuan kegiatan ini agar semua Rumah Sakit yang ada di Aceh memiliki PKRS, sementara Rumah Sakit yang sudah memiliki PKRS dapat berjalan maksimal, sehingga dalam kegiatan ini dibagi menjadi 2 bagian yakni Rumah Sakit yang sudah ada PKRS, dan Rumah Sakit yang belum memiliki PKRS.

“Misalnya PKRS ini harus memenuhi 5 sasaran promosi kesehatan seperti pasien, keluarga pasien, petugas Promkes, pengujung dan masyarakat yang tinggal di sekeliling Rumah Sakit. Jadi untuk Rumah Sakit yang belum ada PKRS perlu dibuat regulasi atau minimal Surat Keputusan (SK) yang sudah dibentuk oleh internal, “ papar Edi.

Dia berharap agar Rumah Sakit yang belum memiliki PKRS agar segera membentuk PKRS, pihaknya dari Dinas Kesehatan Aceh siap membantu mendampingi. “Kita mengharapkan PKRS dibawah Wadir Pelayanan Umum sehingga jelas posisinya didalam satu bagian”, katanya.

“Setelah workshop ini, kita berencana akan melakukan monitoring ke Rumah Sakit seluruh Aceh, apakah dijalankan,  seperti apa proses menjalankannya, dan hasilnya seperti apa”, ujarnya.

Menurutnya jika dipetakan hampir 70 persen Rumah Sakit di Aceh sudah ada PKRS, hanya saja belum memenuhi 5 sasaran tadi. “Kendalanya membentuk PKRS ini prosesnya panjang, artinya dari perencanaan, pelaksanaan, terus bagaimana advokasinya, kemitraan dan sumber daya manusianya sudah cukup atau belum, “ urai alumnus Magister Kesehatan Masyarakat USU ini.           

Lebih lanjut, Edi menjelaskan di Aceh baru Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUDZA) yang sudah memiliki PKRS serta didukung petugas yang telah diberikan peningkatan kapasitas.

“Hanya satu sasaran lagi yang perlu dilakukan RSUDZA yakni masyarakat sekitar Rumah Sakit, belum dimaksimalkan karena PKRS ini lintas sektor, jadi perlu bermitra. Kendalanya karena masyarakat kota memiliki kesibukan masing-masing jadi agak sulit untuk diajak melakukan pertemuan, namun dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan Posyandu, “ terangnya.

Soraya

               

Posting Komentar