Empat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2019 Dari Aceh

Minggu, 01 Desember 2019, Desember 01, 2019 WIB Last Updated 2019-12-02T03:12:37Z


Banda Aceh-Aceh berhasil meraih 4 sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) selama tahun 2019. Karya budaya yang berhasil masuk dalam WBTB tersebut meliputi Memek (makanan khas Seumeulu), Gutel (makanan khas Gayo, Aceh Tengah), Silat Pelintau dari Aceh Tamiang dan Tari Sining dari Aceh Tengah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin menerima langsung sertifikat WBTB untuk Aceh di Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta pada 8 Oktober 2019. Keempat WBTB 2019 yang diraih Aceh tersebut ditampilkan pada malam Pertunjukan Drama Kolosal dan Malam Anugerah Seni (Warisan Budaya Tak Benda) 2019 yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di Taman Seni dan Budaya Aceh pada Sabtu malam, 30 November 2019.



Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh Suburhan SH, mengatakan bahwa pelaksanaan penyerahan WBTB Indonesia mutlak diperlukan sebagai apresiasi kepada daerah-daerah yang karya budayanya telah diakui sebagai WBTB Indonesia.

“Kita harapkan semua tradisi kita gali lagi, tari yang mungkin selama ini sudah menghilang atau tidak lestari lagi. Seperti Sining ini pertunjukkan perdana yang kita lihat disini, yang dulu kita tidak tahu. Setelah digali oleh para tokoh dan seniman di Aceh Tengah, akhirnya ditemukan Sining dengan foto-foto pada zaman dahulu. Digali lagi akhirnya dapatlah beberapa tokon yang masih mengingat Tari Sining, “ urainya.

Dia berharap, warisan budaya tak benda yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar lestari, maka upaya harus dikembangkan dengan meminta kepada Pemda khususnya untuk melestarikan dan memberikan pendidikan tentang tari-tarian, termasuk makanan supaya tidak digerus oleh makanan moderen.

Kegiatan penyerahan WBTB Aceh juga menampilkan Tangke Band dan Pertunjukan Kolosal (Teater Kolosal) yang dipentaskan oleh sekitar 60 orang pemain dari dukungan penuh Sanggar Ceudah Hatee dan Mustika Art Entertainment (MAE) juga beberapa seniman dan budayawan Aceh. Teater kolosal yang dipentaskan mengambil latar peristiwa Aceh dari masa ke masa, mulai dari masa Kesultanan Aceh hingga Aceh Pasca Tsunami 2004.

Soraya



Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+