Iklan

Strategi Pengusaha Kuliner Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu, 24 Maret 2021, Maret 24, 2021 WIB Last Updated 2021-03-24T06:35:32Z


Banda Aceh - Meskipun sangat terdampak dengan adanya pandemi Covid-19, para pengusaha kuliner di Banda Aceh tetap berharap dapat bertahan. Peraturan mengenai pembatasan sosial yang menyebabkan turunnya aktivitas perekonomian secara drastis, berakibat pada merosotnya pengunjung di kafe.


Dijumpai media ini pada Selasa (23/03), Owner Kafe Breaktime Florensa S KG mengatakan segmen pasar kafenya lebih cenderung pada family, munculnya pandemi Covid-19 terjadi penurunan drastis, karena adanya rasa khawatir jika membawa keluarga untuk nongkrong


"Diawal pandemi kita mengalami penurunan pengunjung sampai 80 persen, itu seminggu sebelum lockdown kita mulai minus terus. Setelah lockdown kita tutup selama seminggu, karena adanya himbauan dari pemerintah cuma boleh beli makanan dengan sistem take away home, " paparnya.




Ditambahkannya,  penjualan dengan sistem take away home tidak memadai omsetnya, sehingga sebagai pebisnis kuliner berusaha untuk bertahan, dan melakukan berbagai upaya, termasuk harus mengurangi karyawan.


Dikatakan Florensa, saat ini jumlah pengunjung perlahan mulai meningkat lagi, namun belum seramai seperti sebelum adanya Covid-19. Rotasi pengunjung yang awalnya siang ramai hingga sore ramai, sekarang hanya ramai pada malam hari dan malam Minggu. 


"Hal ini terjadi karena banyak faktor, salah satunya selain adanya pandemi juga ada faktor kompetitor yang semakin banyak. Saat pandemi juga kita pernah tutup selama 2 minggu atas himbauan pemerintah. Setelah itu kita buka lagi dengan adanya keterbatasan boleh buka, tapi tidak boleh nongkrong atau duduk, " sebut alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala ini.




"Selang seminggu boleh buka, tapi harus ada jarak duduk. Disisi lain biaya operasional bertambah, karena harus menyediakan  handsanitizer, harus desinfektan ruangan. Ini memang terasa saat omset turun, tapi biaya operasionalnya naik, " imbuhnya.


Pemangkasan karyawan cukup drastis hingga 50 persen, awalnya karyawan 43 orang sekarang menjadi 17 orang, lanjutnya. Menurutnya fenomena penurunan omset juga terjadi di kafe lain, makanya sekarang ini yang paling survive yakni bisnis kuantitas, untungnya kecil tapi kejar ramainya pengunjung.


Sementara itu, untuk menu makanan yang paling banyak diminati pengunjung yakni Chicken Wings Japanese Spicy dan Churros, sedangkan minuman yaitu Coffee Brule dan Lemon Tea, tuturnya.

   

"Awalnya memang kita kuantitas tapi sekarang kita sudah kualitas. Strategi yang kita lakukan sekarang ini bisa bertahan saja dulu. Harapan saya kepada Pemerintah Aceh agar  merangkul kita, dengan memberikan fasilitas yang kita butuhkan. Kita ini orang yang lagi berjuang untuk mencari investor ikut menumbuhkan ekonomi daerah. Semoga juga ekonomi masyarakat dapat pulih kembali, dengan tidak adanya pandemi lagi kedepan, " demikian ujarnya diujung wawancara.


Soraya


Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+