Banda Aceh - "Uleelheu di Kutaraja boleh tak boleh dibawa saja, lala,,, lala,,, laaaaa ." Begitulah lirik lagu lawas yang dinyanyikan para perantau tempo doeloe.
Ulele atau Ulelheu adalah kesan maha indah dalam ingatan para perantau. Ketika mereka tidak lagi berada di Aceh, mereka menyanyikan lagu itu. Mengenang keindahan Uleelheu yang tak bisa mereka lupakan.
Uleelheu merupakan sebuah pantai berpasir hitam di sudut pesisir Kota Banda Aceh. Pada mulanya, disambung dengan pasir putih pada lokasi mendekati pantai basah.
Setiap minggu pagi Uleelheu menjadi tujuan untuk mandi laut. Pada masa pertengahan tahun 1980-an, anak muda Banda Aceh berlari maraton dari rumah mereka ke Uleelheu.
Aktivitas berlari itu biasanya usai shalat shubuh. Ketika matahari sudah terbit, mereka sudah sampai di Uleelheu.
Di sepanjang jalan menuju pantai ada seorang wanita tua yang mengipas tungku arang. Di atasnya dipanggang pulut bakar berjejer di atas tungku.
Pulut bakar itu dibeli para pemuda yang sedang lari marathon. Mereka ke pantai dan duduk di pasir pantai, di belakang pagar belakang rumah penduduk setempat.
Itu adalah gambaran Uleelheu tahun 1980-an. Mundur lagi pada tahun 1960-an Pantai Uleelheu hanya dikunjungi oleh nona-nona anak pejabat Aceh. Mereka bersepeda ke sana berkelompok.
Dalam ingatan sejarahnya Uleelheu adalah sebuah lokasi pelabuhan yang dibuat Belanda. Kemudian pelabuhan ini meningkatkan frekuensi pada masa freeport Sabang masih aktif.
Selain misterius, pantai ini dikenal sebagai pantai yang sangat indah. Di sinilah opsir Belanda bersantai, sambil mandi laut di masa kolonialisme.
Sebuah misteri menyebut adanya terowongan panjang di Uleelheu, mulut terowongan berada di bawah Meuligoe Gubernur Aceh. Ujungnya berada di Uleelheu, tunnel itu dibangun untuk pelarian tentara Belanda bila diserang pejuang Aceh.
Meski terkenal dengan keindahan nya, sejatinya Uleelheu adalah sebuah wilayah yang sangat religius. Di sini ada sebuah Mesjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada abad ke XVII M.
Di Mesjid Baiturrahim inilah para ulama dari kemukiman Meuraxa beribadah, pada masa Kesultanan Aceh. Mesjid ini banyak digunakan untuk ibadah kaum sufi. Letaknya yang jauh dari keriuhan pasar, menjadikan Mesjid Baiturrahim pilihan kaum sufi.
Pada hari Minggu 26 Desember 2004 keindahan Uleelheu sempat berakhir. Sebuah gelombang raksasa datang dari laut melenyapkan pemukiman di sana. Pantai tenggelam, daratan hilang.
Hanya Mesjid Baiturrahim yang tersisa dan sebuah menara beton runcing yang tertinggal. Selebihnya lenyap di pagi hari. Saat Pasukan Katak, yang bersiap menutup latihan mereka ditelan laut.
Kini pantai itu sudah merenovasi diri. Keindahan alam dari pesona alami pantai, dipoles oleh tangan terampil manusia. Menjadikan Uleelheu wisata buatan yang juga masih dikunjungi.
Tarmizi Alhagu