Perjalanan ini bermula pada September 2015. Baru saja saya menapakkan kaki sebagai Amil, semesta langsung menguji tekad saya melalui tugas heroik, menembus pekatnya asap Palangkaraya. Selama 14 hari, saya berjibaku di atas lahan gambut Kalimantan Tengah yang membara. Di sanalah, di bawah bimbingan Bang Gaw dari Sekolah Relawan, fondasi jiwa kerelawanan saya mulai terbentuk. Beliau bukan sekadar komandan, tapi guru yang mengajarkan arti keteguhan di tengah bencana.
Tahun-tahun berikutnya adalah rangkaian ikhtiar di medan laga. Mulai dari banjir bandang Garut hingga gempa Pidie Jaya di penghujung 2016. Penugasan 40 hari di Aceh meninggalkan jejak yang abadi. Seorang anak asuh Hafiz yang hingga kini menjadi pengingat akan janji kemanusiaan saya.
Februari 2017 menjadi titik balik karier saya sebagai Volunteer Manager. Setahun berselang, September 2018, saya dipercaya mengomandani respon lapangan saat gempa, likuifaksi, dan tsunami meluluhlantakkan Sulawesi Tengah. Selama 90 hari di Tanah Kaili bukan sekadar masa tugas, melainkan sekolah kehidupan yang menempa kedewasaan saya dalam menghadapi duka yang kolosal.
Tahun 2019 mencatat sejarah baru saat langkah kaki saya mencapai tiga negara yaitu Korea Selatan, Cina, dan Malaysia. Namun, perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh adalah pencarian makna hidup, yang akhirnya bermuara pada 11 Januari 2020. Allah mempertemukan saya dengan sosok perempuan saleha yang tangguh, yang kemudian bersedia membangun bahtera rumah tangga bersama saya pada Agustus 2020.
Dedikasi di Sulawesi Tengah berlanjut hingga masa pemulihan 2021, dengan tuntasnya pembangunan 950 unit Huntara dan 93 unit Huntap Kampung Haji BPKH di Sigi. Di tengah pencapaian itu, amanah baru datang; saya dipercaya mengemban tugas sebagai General Manager Rumah Zakat Action.
Tahun 2021 juga membawa kebahagiaan sekaligus ujian rindu. Putri pertama kami lahir saat saya sedang berjuang di medan tugas. Meski tak bisa mendampingi istri secara fisik, saya menyaksikan betapa Allah Maha Baik dengan memudahkan jalannya. Kebaikan-Nya kembali terasa di awal 2022, saat saya diundang menjadi tamu-Nya di Baitullah. Sebuah perjalanan ruhani yang menjadi oase di tengah padatnya aktivitas duniawi.
Tahun 2023, panggilan kemanusiaan membawa saya ke Turki yang sedang berduka akibat gempa. Sebulan di Negeri Dua Benua, melewati Ramadhan jauh dari rumah demi menyalurkan amanah para dermawan. Tahun ini pula saya mengasah kapasitas dengan mengikuti pelatihan Sphere Trainer di Yogyakarta, yang membawa saya resmi terdaftar sebagai Sphere Trainer Global pada akhir 2024. Mimpi untuk menjadi guru bagi relawan dunia perlahan mulai mewujud.
Ujian kesabaran kembali hadir di November 2025. Putri kedua kami lahir di tengah masa tugas saya di Sumatera. Meninggalkan istri dalam masa nifas demi misi kemanusiaan adalah pengorbanan yang berat, namun saya menitipkan mereka sepenuhnya pada Penjaga Terbaik, Allah SWT.
Kini, mengawali 2026, sebuah kolaborasi epik tercipta bersama UGM, kami membangun Huntara papan dengan konsep Cash for Work bagi penyintas banjir. Puncaknya, dalam Rakernas Rumah Zakat, saya berkesempatan mendampingi Menko Pemberdayaan Masyarakat, Bapak Muhaimin Iskandar, bersama jajaran pimpinan lembaga, peresmian program Cash for work dalam pemulihan di Sumatera.
Sepuluh tahun, 26 provinsi, dan 6 negara. Ini bukan sekadar angka, melainkan perjalanan tentang keikhlasan dan kesyukuran. Saya percaya sepenuhnya, setiap butir kebaikan yang kita tebar akan kembali dalam bentuk keberkahan yang tak terduga dari-Nya.
Al Razi Izzatul Yazid (Kepala Divisi Kemanusiaan Rumah Zakat)
