Wanita Jalin Sedang Mengupas Kemiri Dikolong Rumah Mereka.
Aceh Besar-Disebuah kolong rumah panggung, seorang wanita paruh baya duduk merunduk, ditangannya sejenis alat pengupas kemiri bergerak cepat.
Dihadapannya dua gadis cilik usia sekolah dasar menemani, berbincang dengan ibunya yang terus mengupas kemiri, sesekali tawa gadis kecil bersahutan, membuat ibunya menoleh dan tersenyum.
Disebuah kursi panjang seorang wanita tua usia lebih seabad, duduk memperhatikan, menantu yang terus mengupas kemiri, cucu yang tertawa dan berlarian saling mengejar
Kolong rumah panggung itu tak ubah bagai aktivitas sebuah pabrik, kesibukan yang berlanjut terus menerus dalam kebersahajaan, tanpa jam kantor, tanpa tanda pengenal karyawan, tanpa atasan dan bawahan, semua sibuk bekerja
Begitulah runititas hidup didesa Jalin, sebuah desa terpencil di timur Jantho, ibu kota Aceh Besar
Dihalaman rumah terhampar jemuran pinang, sebuah karung kecil dipakai untuk menjemur cabai, rumah itu terlihat begitu sibuk, dengan penghuni yang tak berhenti bekerja.
Nenek tua pemilik rumah tak pernah silap memandang ke halaman, jemuran cabai miliknya dijaga terus dari Patukan ayam, halaman rumah terbuka dengan pintu pagarnya, siapa pun boleh masuk, dari hewan yang terbang hingga manusia.
Disisi Samping rumah, tumpukan karung berisi 30 goni kemiri yang telah dikupas, kata pemiliknya sekarang harganya turun, hanya 7,5 ribu rupiah/kg, sebelumnya masih 8,5 ribu rupiah/ kg.
Dipintu dalam bagian belakang seorang lelaki paruh baya datang melongok, dia tersenyum mendengarkan perbincangan, itulah suami wanita pengupas pinang.
Rumah panggung itu berdiri kokoh disisi jalan utama desa Jalin, ukurannya cukup besar, memiliki bagian dapur yang menyatu dengan lantai dibagian belakang.
Disisi barat rumah sebuah toilet permanen dibangun, cukup untuk kebutuhan mandi dan buang air.
Rumah didesa Jalin memang berbeda, mereka tidak mengikuti zaman, tetap mempertahankan rumah panggung dari bahan kayu.
Dihalaman rumah warga ditanam berbagai kebutuhan rumah tangga, dari sayuran labu, belimbing sayur, daun kelor, pohon rambutan, pohon tebu, bunga seruni untuk obat sakit perut anak kecil, hingga pohon pisang untuk kebutuhan pangan mereka.
Desa Jalin terlihat cukup mandiri dalam ekonomi mereka, padi, pinang dan kemiri jadi penopang utama ekonomi warga.
Tarmizi Alhagu.