Teropong Bang Midi
Dua minggu telah berlalu. Gonjang ganjing peringatan 21 tahun Damai Aceh 15 Agustus lalu masih sangat membekas.
Setidaknya pertanyaan di mana Gubernur Aceh Mualem dan Wali Nanggroe Malik Mahmud, masih menjadi pembicaraan terus menerus.
Pemberhentian Sekda Aceh M Nasir Syamaun oleh Presiden Prabowo, cukup mengguncang publik. Bagaimana tidak, hanya untuk pemberhentian seorang Sekda tingkat propinsi, harus dengan Keputusan Presiden.
Sebuah praktik Ketatanegaraan yang tidak lazim. Mengapa hanya untuk memberhentikan Sekda Aceh harus turun tangan Presiden Prabowo?, Bukankah cukup dengan Keputusan Mendagri saja, ada apa ini? Begitu pertanyaan publik Aceh yang masih mendebat.
Itulah ke guncangan yang telah terjadi pada Pemerintahan Aceh saat ini. Ketidak hadiran Mualem, menghilangnya Malek Mahmud. Lalu tiba- tiba muncul pernyataan dari mantan Wapres M. Yusuf Kalla, memberi informasi keberadaan pemimpin Aceh itu dalam pemulihan kesehatan di Malaysia.
Berbagai anomali itu mengingatkan kembali saya pada 15 Agustus 2026. Ketika saya melintas didepan Mesjid Raya Baiturrahman, mengambil sebuah video kegiatan peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh,
Semua terjadi biasa saja, sampai pembacaan petisi oleh para tokoh Aceh yang memberi orasi di atas panggung. Tidak ada hal yang luar biasa, kecuali sekeliling Mesjid Raya Baiturrahman sudah berkibar Bendera Bintang Bulan.
Saya meninggalkan Mesjid Raya sekitar pukul 12: 00 WIB siang. Pergi ke warung Garut di belakang mesjid untuk membeli lauk.
Sampai saya di rumah belum terjadi apa-apa. Justru saat saya sedang menikmati kopi di warkop Ali Kopi Lampaseh. Beberapa pesan Whatsapp muncul di handphone. Video- video kerusakan di mesjid Raya Baiturrahman bermunculan.
Video itu dikirim oleh anak buah saya, ada juga teman dari Jakarta mengirim video kekerasan itu. Ketenangan menikmati kopi jadi terusik, saya lihat di warkop banyak orang yang saling bersalam-salaman, Orang-orang yang sepertinya bukan warga Banda Aceh.
Saya bergegas ingin mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi. Melajulah ke lokasi tempat berkumpulnya wartawan, di bekas kantor PWI Aceh, yang kini mereka sebut Sekber.
Disana berbagai perbincangan ramai. Saya duduk di dekat wartawan tua yang rambutnya hampir tidak ada lagi yang hitam.
Di sanalah saya peroleh informasi telah terjadi kekerasan antara massa pengikut 21 Tahun Hari Aceh Damai dengan aparat keamanan. Berbagai dugaan disampaikan, apalagi seorang jurnalis tua, melihat sebuah senjata api terselip di pinggang seorang massa. Seorang temannya kemudian merapikan silakan baju itu untuk menutup senjata dari pandangan.
Seorang jurnalis yang pernah menjadi aktivis dan malang melintang di Partai Politik, memberi dugaan- dugaan kearah mana massa akan bergerak. Dia menyebut Pendopo Gubernur, DPRA dan Kantor Wali Nanggroe.
Terlalu riuh di Sekber dan kenyataan saya belum shalat dhuhur. Pergilah saya dari tempat berkumpul wartawan itu. Saya mengambil jalan menghindar agar tidak bertemu kerumanan massa.
Bergerak ke arah Selatan saya bermaksud melewati Pendopo Gubernur. Untuk shalat Dhuhur di Mesjid Baiturrahim, Ulee lheu, karena arah depan Simpang Kodim telah ditutup aparat keamanan.
Siapa sangka justru ketika saya mau membelok ke arah Simpang Jam. Justru di sana saya terhenti, gerakan massa dari arah barat telah menutup jalan ke arah Ulee lheu.
Saya terjebak di samping trotoar sebelah barat depan Pendopo Gubernur Aceh. Kenderaan tidak bisa melaju lagi, saya turun dan mendorong motor saya, tetapi massa terus mendekat ke Pendopo. Di sanalah saya terhenti tidak bisa bergerak lagi.
Ditengah kepanikan itu, saya mendengar teriakan- teriakan mencari Mualem. Massa mencomot bendera merah putih yang dipasang pada pagar Pendopo. Nematahkan tiang bendera dan apapun simbol Republik Indonesia.
Amarah massa itu membuat nyali menciut, dengan cepat mereka telah menerobos masuk ke halaman depan Pendopo. Menurunkan bendera merah putih, menaikkan bendera bintang bulan ke puncak tiang.
Burung Garuda yang menempel di dinding atas depan Pendopo juga mereka copot. Melemparnya ke bawah lalu diinjak ramai-ramai. Bendera merah putih yang telah terkumpul dibakar. Asapnya mulai mengepul, tetapi sepertinya bendera itu tidak berhasil terbakar.
Merinding melihat aksi itu, saya bergegas melaju ke Mesjid Baiturrahim. Seusai shalat baru saya mendengar cerita dari seorang TNI kepada dua rekannya, yang juga shalat di sana. Dia membicarakan keganasan massa mengobrak-abrik Pendopo Gubernur.
Disaat pulang saya masih melihat sisa-sisa keganasan massa di depan kantor DPR Aceh. Berpikir apa pula bencana yang telah menimpa kantor Wakil Rakyat itu.
Sampai dua Minggu setelah 15 Agustus 2026, apa yang terjadi hari itu oleh kemarahan massa masih membekas. San apa pula yang melatar belakangi amarah rakyat, yang datang dari berbagai wilayah Aceh itu, dengan mengibarkan bendera bintang bulan, masih menjadi pertanyaan.
Berbagai elemen yang hadir dari Aneuk Syuhada Aceh, para ulama, korban banjir, massa yang mengibarkan bendera bintang bulan, menjadi pertanyaan apa target mereka? Kepada siapa mereka minta pertanggung jawaban? Apa yang membuat rakyat murka mengobrak abrik Pendopo Gubenur Aceh.
Lalu pertanyaan apakah mereka akan kembali di masa yang akan datang, bila tujuan massa tidak tercapai. Hal itu masih terus menjadi pertanyaan di Banda Aceh.
