Iklan

Tak Boleh Foto, Tak Boleh Rekam, Tak Boleh Tulis Dari Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki

Rabu, 13 Juli 2022, Juli 13, 2022 WIB Last Updated 2022-07-13T12:19:22Z



Suasana Saat Insan Pers Bubar Seusai Acara Silaturahmi Dengan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki


Banda Aceh - Sebuah pertemuan silaturahmi  antara Pemred Media dengan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki berlangsung  Rabu siang (13/7), di Meuligoe Gubernur Aceh.

 

https://youtu.be/2G6JzZamNSg


Pertemuan yang diawali dengan makan siang itu diikuti oleh puluhan wartawan yang didominasi oleh wartawan generasi tahun sembilan puluhan. Achmad Marzuki langsung mengawali pembicaraan dengan sebuah permintaan yang membuat para insan pers hanya bisa melongo.

 

“Jangan difoto, jangan direkam, jangan diviralkan,” katanya, yang membuat para fotografer  dan cameraman media cetak dan elektronik harus gigit jari. Permintaan itu dilanjutkan  lagi dengan kalimat yang lebih seram “jangan ditulis, " tegasnya.

 

Permintaan ganjil yang keluar dari mulut penguasa nomor satu di Aceh ini, apalagi datang dari seorang Jenderal TNI, tentu membuat kaget banyak wartawan. Tak ada yang berani mengambil foto, tak ada pula yang berani merekam. Semua hanya mendengar, menyimak semua kata yang keluar dari mulut Jenderal berbintang dua itu.

 

Wartawan generasi tua yang sudah duduk di barisan depan pada sebuah meja bundar, hanya terlihat menemani Achmad Marzuki makan setelah dia berpidato beberapa saat. Tak ada komentar, hanya duduk diam. Di kejauhan insan pers tempo doeloe, sedikit berbisik dengan prosedur baru tak lazim ini.

 

Seusai makan Achmad Marzuki  bercerita dihadapan para insan pers golongan tua, yang mengelilingi dirinya. Beberapa kejap kemudian puluhan wartawan lain, diikuti generasi muda juga mendekat, ikut mendengar pembicaraan.

 

Dari kejauhan, di bangku meja belakang dekat pintu keluar, saya hanya menatap. Tak tahu apa yang mereka bicarakan.  Tak terbersit pula keinginan untuk bergabung mendengarkan, saya pikir "untuk apa ?". Toh, tidak bisa ditulis juga pembicaraan itu.

 

Tak boleh tulis, tak boleh foto, tak boleh rekam. Larangan ini ternyata terus membuat perdebatan dikalangan insan pers. Dari mulai mereka pulang, hingga bubar dari Meuligoe.  Berbagai pendapat bermunculan tentang prosedur tidak lazim ini.

 

Sebelum pulang, saya hanya sempat merekam ulangan pembicaraan dari seorang rekan wartawan. Lalu mengambil sebuah foto ketika para insan pers berhamburan keluar meninggalkan ruangan. Setelah mereka ditinggalkan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki seusai acara silaturahmi.

 

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini