Ads (728x90)


Jakarta-Bagi warga Jabodetabek tentu tidak asing dengan bangunan Menara Saidah, tinggi menjulang di Jalan MT Haryono Jakarta Timur. Sewaktu berdomisili di Bogor hampir setiap minggu saya melewati gedung ini. Dari Stasiun Bogor saat menuju Jakarta, saya transit di Stasiun Cawang yang letaknya persis di belakang gedung tersebut.

Dulu sebelum muncul Bus Transjakarta saya selalu menunggu bus kota di depan Menara Saidah. Bahkan tukang ojek duduk di batu beton depan gedung, dan menjadikannya sebagai pangkalan ojek. Ketika melihat gedung megah tersebut, saya juga sudah heran mengapa gedung dibiarkan terbengkalai tidak berpenghuni, padahal letaknya sangat strategis.

Penampakan menara dari depan
(Foto : Soraya)

Tampak sesekali burung-burung walet berterbangan di sela-sela jendela kaca menara. Bangunan tersebut bernuansa Romawi dengan patung prajurit, dan patung singa berwarna putih di depannya. Bagian lobi menara dihiasi pilar-pilar tinggi dan besar ala Romawi. Pilar dicat hijau, namun kini tampak luntur dan kusam sama seperti dinding luar menara.

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit misteri tentang sepinya Menara Saidah mulai terkuak. Informasi pertama yang saya dengar bahwa di gedung tersebut kerap terjadi penampakan berupa kuntilanak memakai baju berwarna merah.

Salah satu patung prajurit bergaya romawi
(Foto : Soraya)

Maka ketika malam tiba sambil menunggu kereta yang lewat ke arah Bogor saya sesekali menatap gedung itu. Namun yang terlihat hanya sebuah siluet gedung tinggi yang gelap, tanpa ada satu pun berkas sinar di tengah gemerlapnya Kota Jakarta.

Sampai kemudian tidak jauh dari situ didirikan Halte Cawang, semakin banyak komuter (pengguna kereta api) yang turun di Stasiun Cawang untuk menyambung busway. Semakin banyak cerita yang saya dengar, seperti bahwa dulunya ada seorang gadis yang meninggal tertabrak kereta api di Stasiun Cawang.

Penampakan gedung dari bawah ke atas
(Foto : Soraya)

Hingga terbesit kabar bahwa tanah tempat didirikannya Menara Saidah sebelumnya merupakan kuburan warga, dan banyak jenazah yang tidak dipindahkan. Hingga kini cerita itu masih kerap terdengar, dan sampai saat ini juga Menara Saidah tetap terbengkalai. Bahkan dijadikan lokasi tantangan buat komunitas pemburu hantu.

Kini Menara Saidah menjadi buah bibir ketika sang pemilik gedung Fahmi Darmawansyah, yakni suami Inneke Koesherawaty yang baru-baru ini tertangkap oleh KPK atas kasus suap Kepala Lapas Sukamiskin, Bandung. Fahmi memiliki menara ini dari orang tuanya, keluarga Saidah.

Tampak menjulang tinggi di Jalan MT Haryono
(Foto : Soraya)

Sekarang Fahmi Darmawansyah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan suap fasilitas mewah di dalam sel Lapas Sukamiskin. Suami Inneke Koesherawati itu dijebloskan ke Lapas Sukamiskin karena menyuap pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla), terkait pengadaan monitoring satelit di Bakamla.

Tidak hanya sampai disitu, selain soal hantu, Menara Saidah juga dikabarkan bangunannya miring. Banyak masyarakat yang melihat konstruksi bangunan Menara Saidah ini tidak lurus. Namun pihak pembangun gedung Hutama Karya sempat membantahnya.

Menara Saidah mulai dibangun pada 1995 dan rampung pada 1998. Awalnya menara tersebut bernama Gedung Gracindo. Pemilik pertama gedung tersebut adalah PT Mustika Ratu atas nama Moeryati Sudibyo.

Gedung tersebut awalnya memiliki 18 lantai. Kemudian, menara dilelang pada 1995 dan dimenangkan oleh Keluarga Saidah. Kepemilikan jatuh ke Fajri Setiawan, anak kelima Keluarga Saidah.

Gedung Gracindo berubah nama menjadi Menara Saidah dan kemudian direnovasi, seperti penambahan jumlah lantai menjadi 28. Awalnya banyak kantor perusahaan yang menyewa dan menempati menara tersebut. Setelah Fajri Setiawan meninggal, kepemilikan gedung jatuh ke anak bungsu Saidah Abu Bakar Ibrahim, yakni Fahmi Darmawansyah.

Sejak 2007, menara tersebut tidak difungsikan, dan dibiarkan dalam keadaan kosong hingga saat ini. Alasannya karena pondasi gedung tidak tegak berdiri dan miring beberapa derajat, sehingga dianggap berbahaya. Lantas apakah masih ada misteri lain yang menyusul Menara Saidah ?

Soraya/dbs




Posting Komentar