Aceh Besar - Apa yang bisa dilihat di ruas Jantho-Lamno. Sebuah jalan puluhan kilometer yang menghubungkan dua Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Jaya.
Jalannya penuh tanjakan dan turunan curam, penuh kelokan berliku-liku. Sepi langsung menyergap setelah 10 kilometer melewati jalan ini dari Desa Cucum, sebuah desa terakhir di sebelah barat Jantho.
Suara hewan hutan terdengar sampai ke jalan. Tidak ada penghuni di kedua sisi jalan, tidak ada warung. Tidak ada pemukiman, tidak ada tukang tempel bila kenderaan tiba-tiba bocor. Tidak ada kios penjual BBM bila bensin habis
Itulah yang saya lihat ketika melintasi jalan di tengah pegunungan itu pada Minggu (16/2), untuk melihat potensi di ruas jalan Jantho-Lamno.
Sepanjang jalan suasana seram mencekam langsung menyergap. Berbagai ketakutan melintas di kepala. Takut diserang binatang buas lah, takut diseruduk babi lah, takut dirampok lah, bocor ban lagi.
Berbagai kekhawatiran muncul ketika melintasi jalan sepi ini. Kalau saja tidak ada beberapa remaja dan anak muda melintas di jalan, membawa pancing, berboncengan dengan temannya, kemudian melintas pulang kembali.
Sekilas Ruas Jantho-Lamno diperuntukkan untuk memperpendek waktu tempuh, dan menghindari ruas Lhong - Lamno yang penuh jurang berbahaya.
Bila dibandingkan dengan kecuraman dan kelak kelok jalan di Gunung Kulu, Gunung Paro dan Gunung Geurute, yang penuh dengan jurang dalam dikedua sisi jalan, ruas Jantho - Lamno adalah anugerah untuk pelintas.
Tapi apakah hanya itu saja yang dimiliki jalan alternatif Jantho-Lamno. Ternyata tidak, sepanjang ruas jalan Jantho-Lamno menyimpan potensi ekonomi, pariwasata, ekologi, peternakan, pertanian, perkebunan, bahkan menyimpan berbagai flora untuk bahan baku farmasi, bahan baku industri dan berbagai potensi lainnya yang tidak akan habis disebut.
Potensi Peternakan
Sepanjang ruas jalan kita bisa melihat dikedua sisi, stepa atau padang rumput yang hijau, sebagai bahan makanan untuk peternakan sapi, domba, kerbau dan domba.
Potensi Perkebunan
Di sisi jalan terhampar pemandangan hutan muda, yang bisa dirubah menjadi perkebunan kakao, pinang, pisang, kopi, holtikultura, bawang, cabai, kacang, jagung dan tanaman lainnya.
Semua potensi itu dilengkapi dengan sumber air yang mengalir dari gunung, melalui sungai-sungai yang berada di ruas Jantho-Lamno. Setelah Kebun Binatang Gurun Putih Lestari saja, ada dua sungai yang memiliki cukup air dalam sepuluh kilometer pertama dari Jantho.
Potensi Wisata
Dengan fasilitas seperti itu, ruas Jantho Lamno adalah potensi masa depan ekonomi Aceh. Keberadaannya mampu memberikan kesejahteraan untuk rakyat Aceh, bila Pemerintah Aceh mampu mengolah potensinya dengan benar.
Di sepanjang bukit dan gunung di sana juga bisa dihijaukan kembali, dengan menanam pohon, untuk kebutuhan pertukangan dan industri.
Sehingga ruas yang menghubungkan Kabupaten Aceh Besar - Aceh Jaya itu bisa menyimpan sumber air untuk kebutuhan warga Indra Puri, Sibreh, Banda Aceh, Lhoknga, Leupung, Montasik dan semua kawasan yang berada dibagian utara ruas jalan itu.
Lokasi Berburu
Menanam kembali pohon tentu akan membuat hutan, yang berada disisi Utara dan Selatan ruas Jantho-Lamno akan semakin rimbun. Kondisi ini membuka kesempatan untuk menjadikan kawasan itu sebagai lokasi wisata.
Banyak potensi wisata dapat dikembangkan, seperti menjadikan rimbunan hutan, padang rumput dan gunung sepanjang Jantho-Lamno, untuk dijadikan lokasi berburu yang bisa mengundang pemburu dari berbagai negara.
Even berburu dengan jadwal secara rutin akan membuat kawasan itu makin populer, disamping juga merubahnya menjadi kawasan ekowisata.
Ilegal Logging
Dengan potensi sebanyak itu, tidak terlepas pula adanya tangan-tangan jahil yang merusak hutan di sana. Raungan mesin terdengar jauh di dalam kerimbunan pohon. Tak terlihat mesin apa yang sedang bekerja, tetapi yang pasti di beberapa puncak gunung sudah gundul.
Jejak ilegal logging itu bahkan terlihat disebuah padang rumput ditepi jalan. Beberapa potongan kayu tergeletak di sebuah hamparan tanah, ada jalan tanah juga dengan bekas ban mobil menuju ke arah hutan.
Bila keberlangsungan ilegal logging terus berjalan, hutan rimbun disepanjang ruas Jantho-Lamno tinggal menunggu musnah. Bersama musnahnya harapan rakyat untuk mendapatkan kesejahteraan dari kawasan itu.
Tarmizi Alhagu