Iklan

Dayah Ajarkan Islam Wasathiyah Kepada Santri untuk Cegah Sikap Radikal Dalam Beragama

Kamis, 28 September 2023, September 28, 2023 WIB Last Updated 2023-10-02T04:02:24Z

 

 

        
Kajian  di Hotel Kyriad Muraya, 
Banda Aceh

 

Banda Aceh - Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh bekerjasama dengan Tastafi Kota Banda Aceh dan HIPSI Aceh kembali menggelar kajian aktual yang kali ini mengangkat tema “Praktik Islam Wasathiyah di Dayah : Membendung Sikap Radikal dalam Beragama".

 

Kajian yang dibarengi dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan launching Buku "Praktik Islam Wasathiyah di Institusi Pendidikan Dayah di Aceh" karya Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP ISAD Aceh, Dr Teuku Zulkhairi, MA ini berlangsung di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Rabu (27/9/2023).

 

Kajian tersebut dihadiri ratusan peserta dari kalangan santri, mahasiswa, utusan Kanwil Kementerian Agama Aceh, Dinas Pendidikan Dayah Aceh, KNPI Aceh, ISKADA, BKPRMI Aceh dan lain sebagainya.

 

Ketua Umum DPP ISAD Aceh, Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I dalam sambutannya mengatakan, kajian ini diinisiasi oleh ISAD Aceh bekerjasama dengan Tastafi Kota Banda Aceh, HIPSI Aceh, dan didukung oleh Hotel Kyriad Muraya yang memfasilitasi tempat untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.

 

Kajian aktual Tastafi yang dilakukan oleh gabungan beberapa Ormas Islam ini, kata Mustafa, dilaksankan dua kali dalam sebulan, yaitu satu kali di Hotel Hermes Palace dan satu kali Hotel Kyriad Muraya. Kajian ini mengangkat isu-isu aktual berbasis sosial-keagamaan serta upaya mencari solusi demi kemaslahatan ummat.

 

"Kajian Tastafi ini sudah berlangsung 98 kali. Jelang 100 kali kajian, insya Allah akan dibuat kajian akbar. Kita akan terus menghadirkan gagasan dalam upaya mencegah perpecahan umat serta membendung hadirnya paham-paham yang berseberangan dengan Ahlul Sunnah Wal Jamaah di Aceh," ujar Mustafa Woyla yang juga Wakil Pimpinan Dayah Darul Ihsan.

 

Dayah Ajarkan Islam Wasathiyah

 

Pada kajian Tastafi kali ini, topik pembahasannya fokus terhadap isi buku "Praktik Islam Wasathiyah di Institusi Pendidikan Dayah di Aceh" yang ditulis Sekjen DPP ISAD Aceh yang juga Mudir Ma'had Aly Babussalam Al Hanafiah Matangkuli dan Dosen UIN Ar-Raniry, Dr Teuku Zulkhairi, MA.

 

Dal paparannya, Zulkhairi mengatakan buku yang ditulisnya ini terinspirasi setelah membaca kitab karangan Prof Dr Yusuf Al-Qardhawy yang berjudul “al-Khaṣāiṣ al-‘Ammah lil Islām”.  Disebutnya, dalam kitab tersebut, Yusuf Al Qardhawy menjelaskan tujuh karakteristik ajaran Islam yaitu Rabbaniyah (Ketuhanan), Insaniyah (Kemanusiaan), Syumuliyah (Universal/Konferensi), Wasathiyah (Seimbang/di tengah-tengah), Al Waqi'iyah (realistis), al-Wudhuh (jelas/terang) dan al-Jam'u baina at Tsabit wal al-Murunah (Fleksibel).

 

Dijelaskan bahwa Wasathiyyah merupakan salah satu karakteristik yang menunjukkan  keistimewaan dan ketinggian ajaran Islam. Dengan karakteristiknya yang Wasathiyah, Islam merupakan agama yang senantiasa seimbang (tawazun) dalam semua persoalan, selalu berada di poros tengah, sangat solutif terhadap permasalahan manusia. "Makanya di Barat disebut  “Islam is the solution”, Islam adalah satu-satunya solusi," ujar Zulkhairi.

 

"Setelah mempelajari teori tentang Islam Wasathiyah ini, membuat saya tertarik melakukan penelitian tentang bagaimana praktik Islam Wasathiyah dipraktekkan di institusi pendidikan Dayah yang merupakan institusi pendidikan tertua di Nusantara yang masih eksis," ungkapnya, menambahkan.

 

"Nah, Paradigma Wasathiyah ini dalam praktiknya diamalkan secara baik dalam pembelajaran di Dayah. Hasil penelitian yang dibukukan ini menunjukkan bahwa dayah senantiasa mendidik para santri sikap Wasathiyah (tawazun/seimbang) dalam semua urusan," sambung Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu.

 

Kata Zulkhairi, dengan paradigma pendidikan Wasathiyah yang diajarkan di dayah, sehingga membuat para santri yang belajar Islam akan jauh dari pemikiran dan sikap-sikap takfiri.

 

Red

Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+