Kuah Oen Murong Amat Ramanyang Tampil di PKA-8

Minggu, 12 November 2023, November 12, 2023 WIB Last Updated 2023-11-12T08:40:51Z

 

Kuah Oen Murong Di Stand Bunda Indra


Banda Aceh - Masih  ingat cerita Amat Ramanyang, ini cerita tempo dulu ibu-ibu di Banda Aceh dan Aceh Besar. Biasanya ibu-ibu menceritakan kisah anak durhaka ini pada anaknya ketika masih kecil.

 

Saya pun mendengar kisah ini dari nenek saya waktu  masih kecil di Lhok Seumawe. Nah, biasanya setiap kedatangan nenek  dari Banda Aceh, kisah Amat Ramanyang menjadi cerita wajib. Apalagi ketika kita tidak menuruti perintah orang tua, selalu ditakuti dengan Amat Ramanyang.

 

Kisahnya begini, dahulu kala ada seorang pemuda yang sangat miskin. Dia tinggal hanya bersama ibunya. Suatu hari pemuda yang bernama Amat Ramanyang itu berkeinginan untuk mengubah nasib, maka pergilah dia merantau dengan dibekali bu kulah (nasi bungkus) berisi sayur Oen Murong (daun kelor) dan sebutir telur oleh ibunya.

 

Semenjak kepergian Amat Ramanyang, sang ibu tinggal sendiri. Dia selalu berharap kepulangan anaknya, kerinduan dan kesedihan  berpisah dengan si buah hati,  mempercepat menuanya sang ibu. Rambutnya segera memutih, kulitnya berkerut dan makin menghitam diterpa sinar matahari saat berladang.

 

Kepergian Amat Ramanyang  merantau ke negeri yang jauh, bertahun-tahun tidak pernah pulang. Ketika kembali ke negerinya, dia sudah  menjadi seorang yang sangat kaya. Amat Ramanyang membawa pulang seorang istri yang sangat cantik,  kapalnya berlabuh di teluk Krueng Raya.

 

KIsah Amat Ramanyang pulang ini pun sampai ke telinga ibunya.  Maka wanita itu yang kini sudah renta, dengan pakaian kumal, segera memasak kuah Oen Murong kesukaan Amat Ramanyang. Diapun bergegas ke Teluk tempat kapal itu berlabuh.

 

Seorang pemuda desa memapah wanita tua itu sampai ke pantai, di tangannya tergenggam sebungkus bu kulah dengan sayur Oen Murong dan sebutir telur ayam. Dilihatnya di pantai banyak orang sedang mengelu-elukan Amat Ramanyang.

 

Diapun diantar ketemu Amat Ramanyang dengan sebuah sampan untuk bisa naik ke kapal.  Wanita tua dari kejauhan melihat anaknya memakai pakaian berkilau, layaknya pangeran melayu. Perahu itu bergegas sampai di kapal, dinaikkan ibu itu sampai di hadapan Amat Ramanyang.

 

Saat keduanya bertemu,  sang ibu ingin memeluk buah hatinya, tetapi Amat Ramanyang menepis. Lelaki kaya itu mendorong wanita tua jatuh ke lantai. "Siapa kau wanita tua, kau bukan ibuku. Ibuku tidak tua begini, ibuku tidak kotor begini, " ucapnya. Sang Ibu tua segera mengulurkan tangannya memberi  bu kulah Kuah Oen Murong kesukaan Amat.

 

Bukannya menerima pemberian sang Ibu, Amat Ramanyang malah menendang bu kulah itu jatuh ke laut. Sang ibu pun menangis sedih, dia diantar kembali ke pantai dengan perahu. Ketika turun kedua tangan ibu tua menadah ke langit, dia mengadu nasibnya kepada Yang Maha Kuasa.

 

Langit segera mendung, awan hitam menyelimuti, petir bergelegar bergemuruh. Suasana segera berubah menyeramkan, kapal Amat Ramanyang disambar petir hingga tenggelam ke laut. Bu kulah itu masih hanyut, dan ketika semuanya kembali normal,  perairan Krueng Raya telah berubah.  Sebuah batu besar berbentuk Bu Kulah muncul  di laut.

 

Gerai Potroe Food Bunda Indra Di PKA 8

Kuah Oen Murong itu kini ditampilkan pada sebuah Stand Kuliner di PKA-8. Seorang wanita bernama Bunda Indra menyajikan kuliner tradisional Aceh itu menjadi menu andalannya,  dia memadukan kuah Oen Murong dengan masakan daging.

 

Pembeli Sedang Memesan
Kuah Oen Murong



Selama PKA berlangsung, Bunda Indra mengaku mendapatkan omset diatas rata-rata. Di gerainya bisa mendapatkan penjualan lebih 2 juta Rupiah setiap hari. Terkadang pembeli hanya memesan kuah Oen Murong saja, dia pun membungkus dengan harga hanya 5 ribu Rupiah.

 

Oen Murong atau daun kelor merupakan bahan obat herbal, mengkomsumsinya bisa menormalkan penyakit darah tinggi. Orang Aceh biasanya mengkomsumsi Oen Murong untuk mendinginkan badan ketika terasa panas.


(ADV) 

Komentar

Tampilkan

Terkini