Makam Syech Hamzah Fansury Di Gle Pancu Lampageu, Aceh Besar.
Banda Aceh- Aceh memiliki seorang ulama sufi pada abad ke 17 Masehi, namanya dikenang dibanyak negara Asia Tenggara.
Ulama yang bernama Syech Hamzah Fansury memiliki banyak murid yang menjadi Ulama, tersebar dibanyak wilayah di serantau Melayu.
Hamzah Fansury lahir di desa Fansur dalam wilayah Aceh Singkil sekarang, berasal dari keluarga Ulama.
Pada masa mudanya Hamzah Fansury menuntut ilmu ke banyak negara, tidak hanya tanah Arab dia jelajahi, berbagai negara dia singgahi.
Hamzah Fansury hidup pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa, dia membuat Dayah ( pesantren) di desa Deah yang sekarang menjadi desa Deah Teungoh, Banda Aceh.
Dilokasi Ini Hamzah Fansury dibunuh
Setelah Sultan Iskandar Muda tiada, Hamzah Fansury dibunuh di desa Deah Teungoh, Kepalanya dan kepala santrinya dipancung.
Ulama sufi itu dituduh menyebarkan ajaran sesat Wahdatul Wujud, ditempat ceceran darahnya sekarang telah dibangun sebuah makam sepanjang 12 belas hasta.
Setelah kepalanya dipancung Hamzah Fansury masih dapat berjalan, dia memangku kepalanya diatas telapak tangan, menyusuri tepi pantai.
Sampai di desa Lampageu, Hamzah Fansury naik ke atas bukit, dikawasan Lhok Mata Ie, disitulah terkuak tanah,seketika ulama sufi itu masuk kedalam lobang tanah yang terkuak.
Di lokasi Lhok Mata Ie itulah kini makam Hamzah Fansury berada, memiliki panjang 17 hasta, disamping makamnya ada makam santrinya yang juga terbunuh.
Sepeninggal Hamzah Fansury, kondisi Aceh berubah, maksiat merajalela, sampai kemunculan desa Bidok, lokasi sentral maksiat dan perjudian.
Ketika Syech Abdul Rauf Assingkily mendapa berita, meninggalnya pamannya Hamzah Fansury, dirinya harus menyamar untuk pulang.
Syech Abdul Rauf pulang ke Aceh secara estafet, semula dia singgah di Thailand, lalu ke Malaysia, dari sana baru pulang ke Aceh.
Kehancuran ahklak sudah sangat parah ketika Syech Abdul Rauf sampai di Aceh, dia menyamar jadi nelayan, menyampaikan dakwah secara tersembunyi.
Sampai akhirnya Syech Abdul Rauf diundang ke istana Sultanah Safiyatuddin, barulah kemudian Ulama besar itu bebas berdakwah, dia, mendirikan pesantren dikawasan Syiah Kuala sekarang.
Tarmizi Alhagu.