Panorama Pasar Lamno Aceh Jaya
Aceh Jaya-Sebuah pasar tradisional sudah puluhan tahun bertahan, belum menunjukkan perubahan secara berarti, toko-toko kayu dari zaman lampau masih menghiasi wajah kota Lamno.
Disisi dalam pasar, ada bangunan besar tanpa dinding, tempat pedagang menjajakan dagangan, berbagai meja dengan berbagai ukuran, peti-peti kayu berjejer rapi dibawah pasar tak berdinding itu.
Disanalah beragam kuliner, sayuran dan berbagai kebutuhan rumah tangga dijajakan, ditoko-toko kayu para penikmat kopi duduk santai memandang pelintas yang berjalan didepannya.
Lamno adalah kota tua penuh sejarah, disini pernah berdiri sebuah Kerajaan bernama Daya, yang mengukir sejarah maritimnya sendiri, dikota ini pula lahir etnis bermata biru, sebuah kisah dramatis percampuran tahanan Portugis dengan warga asli Lamno.
Kisah dramatis itu berawal ketika Kerajaan Daya menawan kapal Portugis, mereka meminta tebusan, namun kemudian terjadi percampuran antara pria Portugis dengan wanita Lamno.
Dari percampuran dua bangsa itulah lahir keturunan yang bermata biru, dengan kulit putih yang eksotik, melengkapi keragaman budaya dari etnis Lamno.
Keunikan sejarah Lamno masih dilestarikan sampai sekarang, mereka setiap tahun merayakan semacam festival dimakam Pouteumeureuhom, Raja Daya yang makamnya berada disebuah bukit disisi laut Lamno.
Lamno memang kota tua penuh sejarah, sekarang kota itu menjadi tujuan setiap musim durian tiba, ratusan orang bahkan mungkin ribuan, sampai ke Lamno setiap hari, menikmati durian langsung dari pohonnya.
Musim durian terkadang bersamaan dengan musim rambutan,manggis dan jeruk bali, para pelancong membawa pulang berbagai buah itu ke kota mereka.
Masakan ikan Kerling khas Lamno juga diburu penikmat kuliner, mereka datang untuk menikmati sayur asam keueung ikan Kerling, yang dimasak pemilik rumah makan Lamno.
Ikan Kerling adalah sejenis ikan air tawar yang hanya hidup di sungai, di Lamno ikan Kerling biasanya didapat nelayan di sungai Sapet, dipedalaman Lamno.
Ikan ini sangat langka, tidak bisa dibudidaya, hidupnya juga hanya dibeberapa sungai, yang berada ditengah gunung.
Lamno, Tangse adalah daerah Aceh yang menghasilkan banyak ikan Kerling, warung disana biasa menyajikan ikan Kerling dalam menu mereka.
Ikan itu juga terkadang didapat pemancing dari Krung Meureudu, Krung Simpo, Krung Jantho dalam jumlah yang lebih sedikit.
Lamno masih menyimpan sisi misteri sejarah mereka sampai kini, masih banyak bagian masa lalu Lamno tersimpan rapi di kota itu, tanpa ada yang membuka dan mengurainya.
Menuju Lamno butuh kemampuan ekstra dalam berkendara, letaknya lebih 80 kilometer di selatan Banda Aceh, tiga gunung tinggi Paro, Kulu dan Geureute dengan lintasan tajam dan curam menanti.
Tetapi setibanya di Lamno anda akan terpuaskan, dengan kenikmatan kuliner disana, harga yang murah dengan pelayanan ramah warga Lamno.
Tarmizi Alhagu.