Iklan

Sapi Aceh Besar " Stunting " Dinas Hanya Punya Dana 70 Juta Rupiah

Senin, 20 Februari 2023, Februari 20, 2023 WIB Last Updated 2023-02-20T15:13:47Z




Seorang wanita berusia paruh baya duduk di hadapan kami. Kulitnya putih terawat, aroma harum semerbak menghampiri hidung kami. Hari itu saya mewawancarai seorang dokter hewan bernama Julia Marfina, dia punya jabatan Kasi Kesehatan Hewan di Dinas Pertanian Aceh Besar.

 

Wanita cantik ini mengurusi kesehatan 80.000 ekor sapi di Aceh Besar. Sekitar 13.000 ekor sempat terkena penyakit pada musim PMK, tentu saja Julia menjadi komandan tempur dalam menggempur virus ganas itu.

 

Bersama Julia ada 16 orang dokter hewan lainnya, selebihnya merupakan mentor dari 60 personil yang bertugas pada 12 Puskeswan Aceh Besar.

 

Aceh Besar adalah wilayah yang masyarakatnya secara tradisional menekuni peternakan sapi. Sebagian besar ekonomi mereka adalah berasal pada penjualan hewan ternak itu, membangun rumah, menyekolahkan anak, membeli kenderaan bermotor, semua berasal dari sapi.

 

Pada kenyataannya sebagian sapi di Aceh Besar mengalami keterlambatan pertumbuhan. Terkadang butuh waktu 3 sampai 4 tahun untuk menjual sapi.  Padahal secara normal dalam umur 1,4 tahun sapi sudah boleh dijual untuk komsumsi daging.

 


Para peternak di Aceh Besar melakukan budidaya sapi di dalam kandang yang penuh kotoran. Tidak jarang kotoran itu sampai membuat kulit sapi menjadi lecet dan terluka, akibat itulah sapi Aceh Besar mengalami keterlambatan pertumbuhan.

 

Meski tidak semua peternak sapi Aceh Besar jauh dari kesehatan sapi. Ada juga peternak seperti Mukhlis Basyah melakukan budidaya sapi yang hiegenis, demikian juga Pak Joel di Desa Weu Jantho memiliki sapi yang sehat.

 

Namun secara umum peternak sapi Aceh Besar memiliki sapi yang stunting, akibat kebersihan kandang dan kebersihan sapi tidak terjaga.

 

Ketika hal itu ditanyakan kepada dokter hewan Julia, dia hanya menjawab, “Kami hanya memiliki anggaran  70 juta Rupiah”. Fenomena inilah yang mungkin membuat Aceh ditabalkan sebagai provinsi dengan tingkat stunting sangat tinggi.

 

Bagaimana Aceh bisa terbebas dari stunting, bila protein hewani yang bisa membuat manusia terbebas dari penyakit stunting,  justru berada dalam kondisi stunting. Bukankah untuk tumbuh sehat seorang anak harus makan daging dan minum susu? Itulah yang tidak ada solusi dari pemerintah di Aceh sekarang.

 

 

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini