Aceh Besar - Siang yang panas pada hari ke 11 Ramadhan atau Ahad (01/03), sebuah perjalanan harus saya tempuh dengan sepeda motor.
Tujuannya untuk mencari masakan ikan paya, tepatnya ikan gabus. Sebuah menu kuliner tradisional Aceh untuk menyembuhkan luka dalam.
Perjalanan dari Lampriet ke Seulimum Aceh Besar pada siang yang panas. Sungguh saya harus singgah di Mesjid Indrapuri, artinya separuh jalan lagi sampai Seulimum.
Seulimum adalah sebuah pasar tradisional, dahulunya bekas wedana, namun kini hanya sebuah Kecamatan dalam wilayah Aceh Besar.
Ada sebuah mesjid besar di depan pasar Seulimum. Lokasi yang dijadikan tempat persinggahan oleh musafir, yang datang dari arah timur
Siang itu saya singgah di Mesjid Indrapuri, shalat dhuhur di sana. Lalu iktikaf di dalam mesjid sambil menunggu matahari turun.
Pukul tiga sore saya lanjutkan ke Seulimum. Perjalanan sudah tidak begitu panas lagi, siang yang terik sudah mereda.
Saya pikir untuk apa pula memburu ke Seulimum, terlalu siang belum ada yang jualan kuliner Ramadhan disana.
Mendekati Ashar saya sampai di Seulimum, memarkir sepeda motor di lokasi parkir mesjid, lalu berjalan kearah pasar.
Beberapa pedagang baru saja menyusun dagangan mereka. Ada berbagai kue diletakkan di meja. Dari kue tradisional sampai kue kekinian yang diminati generasi muda
Di sebelah timur mesjid saya lihat ada lapak kaki lima, di depannya sebuah belanga besar diatas drum yang dijadikan dapur. Bahan bakarnya kayu, menyala sedang memasak kuah Beulangong.
Di atas meja sudah tertata rapi berbagai menu kuliner tradisional Aceh. Mulai dari ikan paya, daging bebek, daging ayam, kuah pliek.
Saya lihat ada tiga kepala ikan gabus dijajakan. Terisi di dalam sebuah piring. Adapula telur ikannya, di dalam piring kepala ikan gabus besar.
Saya mengambil satu porsi. Harganya tiga puluh ribu rupiah, untuk dijadikan menu buka puasa hari itu.
Sebuah piring lagi berisi kepala ikan gabus yang lebih kecil, harganya cuma 25 ribu rupiah, tapi tidak ada telurnya.
Saya memilih yang besar karena ada telurnya. Lagian ikan gabus besar sangat langka untuk didapatkan, apalagi ada telurnya.
Jadilah saya membeli kepala ikan gabus. Sebelum shalat Ashar di Mesjid Seulimum, lalu kembali pulang ke Banda Aceh
Tarmizi Alhagu