Lelaki gembul dengan kulit kelam itu memiliki tubuh yang agak pendek. Sepatu hitam bertumit menyentuh tanah, dengan serakan kerikil di bahu jalan.
Pakaian rapi dengan kemeja dimasukkan ke dalam celana. Sabuk kulit hitam melilit pinggangnya. Dia cengengesan dengan wajah sinis, masuk ke warkop di Simpang Tiga kampung.
Usianya mungkin sudah lebih lima puluh tahun. Dimasa mudanya, dia sangat ingin bisa naik mobil haloh, karena biasanya hanya bisa menumpang mobil angkutan umum.
Warga kampung pedalaman tempat asal pria gembul hitam itu berasal, sangat takut padanya. Dia akan marah kalau tidak dipanggil pak.
Mereka memanggilnya Pak Don. Bukan berarti dia bangsawan Spanyol, tetapi awal namanya memang mirip bangsawan Spanyol.
Nama lengkapnya Don Chaplen, dia seorang pejabat di ibu kota provinsi. Pernah dua kali menduduki eselon dua, dua kali pula dia diturunkan singkat dari jabatan nya.
Don Chaplen bukan sembarang orang. Perjalanan hidupnya panjang, penuh perjuangan. Dari mulai kuliah tinggal di toko milik orang sekampung, hingga menjual mie goreng saat masih berstatus honorer.
Hidupnya keras. Bahasanya manis. Dia memiliki sebuah kebun, di seberang sungai kecil di samping meunasah desa.
Ayahnya bernama Mat Allen. Bila tidak sedang di Meunasah, lebih sering terlihat di kebun. Bekerja merawat tanaman di kebun. Terkadang menarik pelepah kelapa ketumpukan sampah, terkadang pelepah pisang atau pinang ditariknya.
Tangan Mat tak pernah kelihatan berhenti bekerja. Tumpukan sampah di kebunnya selalu dibakar. Asap putih tipis selalu terlihat di kebunnya saban hari.
Masa muda Mat sungguh tragis, tangannya cacat jatuh dari pohon melinjo. Saat itu harga melinjo sedang naik harga, agak tinggi laku di pasaran. Mat ingin miliki uang, maka dipetik nya daun dan buah melinjo di belakang rumahnya.
Mat terjatuh saat memegang dahan. Tubuh hitamnya bergedebuk di tanah. Tangannya cacat, hingga dia terlihat jarang menyangkul di sawah.
Hari-hari tuanya dihabiskan di kebun melakukan pekerjaan ringan. Anaknya menggantikan Mat bekerja di sawah.
Sejak Don menjadi pejabat, Mat banyak bercerita, tentang Don yang sudah lulus sebagai pegawai pemerintah. Dagangan mie-nya diserahkan pada pekerja yang Top, kata Mat.
Don yang kini berkelas, tidak lagi terlihat di kalangan pergaulan grass root. Dia memasuki pergaulan elit, dengan para OKB di ibu kota propinsi.
Cerita Don memanjat lutut kerbau di sawah, saat dia masih sekolah menengah, sudah dia lupakan. Dia menghapus habis kenangan balapan kerbau di sawah saat di desa.
Padahal balapan kerbau adalah satu-satunya permainan anak petani, yang selalu ditunggu pada musim luah blang. Mereka berebutan memilih kerbau bule, yang mereka sebut kerbau jagat. Kulitnya putih, tidak seperti kerbau biasa berkulit hitam.
Kerbau jagat selalu menang dalam pacuan, tidak pernah kalah, namun sangat sulit dikendalikan. Jarang yang bisa naik dari lutut hingga duduk di badan kerbau. Lebih sering jatuh saat dipanjat, karena kerbaunya lari.
Tapi Don jago memanjat kerbau jagat yang liar. Dia biasa saja mengendalikan kerbau itu, tapi kini Don berbeda. Permainannya tidak lagi mainan anak desa.
Don sekarang memiliki pergaulan elit, dari kalangan aktivis hingga anggota dewan. Para pejabat eselon adalah dunianya sekarang. Masa mudanya memang malang melintang di dunia organisasi pelajar, karena itu dia banyak mengenal orang sukses.
Sekarang Don hanya bergaul dengan kaum elit ibu kota propinsi. Mereka sering terlihat bareng masuk warkop elit. Orang sekampung tidak dianggapnya lagi. Aroma kemiskinan tubuhnya, sudah berubah aroma dengan parfum ratusan ribu.
Ada satu yang tidak diketahui Don. Teman-teman elitnya juga OKB, yang dihindari untuk dimasukkan. Dalam pergaulan elit sejati ibu kota propinsi, mereka kini terlelap dalam fatamorgana. Melalui hari-hari yang mereka anggap indah. Namun semua itu pasti akan berakhir, karena sejatinya dunia ini fana.
Tarmizi Alhagu
