-->

Pemerintah Tidak Punya Visi Ekonomi Membuat Rakyat Aceh Hidup Sengsara.

Jumat, 25 September 2026, September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T13:32:19Z

Sungai Dangkal Sumber Air Terakhir di Jantho ( Video : Tarmizi) 


Aceh Besar - Sebuah sungai besar tampak kering. Airnya tinggal setumit, badan sungai pun mengecil. Seketika mengubah bentang alam Pegunungan Jantho di Aceh Besar. 


Ikan-ikan kecil didominasi yang ikan kerling, terlihat bergerombol di air yang dangkal. Itulah pemandangan miris diujung desa transmigrasi di Jalin. Sebuah sungai di barat Trans Jalin masih mengalir deras, namun airnya telah keruh menguning. 


Hulu sungai di Jantho adalah pemasok utama aliran air ke Krueng Aceh. Dari sungai-sungai itulah, kemudian tersambung ke Krueng Inong yang berinduk ke Krueng Aceh. 


Dari air Krueng Aceh itulah sawah- sawah di Aceh Besar dialiri. Mulai dari Seulimeum, Indrapuri, Montasik hingga Kecamatan Kuta Baro. Sawah- sawah besar seperti Blang Jaroe dan Blang Tamak, sangat bergantung pada sumber air dari Krueng Aceh. 


Sementara sumber air yang berhulu ke sungai di bawah Gunung Seulawah, sudah lama kering. Seperti Krueng Masen di Beureuneut, kini Sungai Beureuneut pun hanya tinggal air setinggi tumit.


Sungai yang mengalir di Desa Ie Su'um juga kering. Membuat desa itu tidak dapat bersawah. 


Sungai adalah sumber penghidupan warga Aceh Besar. Sumber air dari irigasi menjadi penyambung hidup, untuk sawah dan berbagai tumbuhan perkebunan di sana. Air itu pula yang mereka berikan minum untuk sekitar 75 ribu ekor ternak sapi budidaya. 


Ilegal logging yang memusnahkan hutan Seulawah, adalah sumber utama penyebab kekeringan itu. Ditambah lagi dengan perambahan hutan disekitar Jantho dan kawasan Ulu Masen lainnya.


Perambahan hutan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga merubah suhu. Di kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh terasa sekarang semakin panas. 


Kini persoalan di hutan tidak hanya soal perambahan, tetapi penambangan emas juga. Menggusur pepohonan secara serampangan, dampaknya kemudian membuat endapan lumpur kuning yang mengalir di Sungai Jalin. 


Di Selatan Desa Jalin, ada penambang emas yang datang dari Tangse untuk mencari penghasilan. Mereka ditampung di sebuah rumah besar di Desa Beringin, Lembah Seulawah. 


Di barat Kota Jantho sebelah Selatan, warga di sana melihat pergerakan manusia bermata sipit di pegunungan. Warga juga melihat orang-orang berkulit hitam sedang beraktivitas di pegunungan. 


Faktor Ekonomi


Maraknya ilegal logging dan ilegal mining tidak terlepas dari sulitnya lapangan pekerjaan di Aceh. Pemerintah tidak dapat memberikan pekerjaan dan penghasilan yang layak untuk warganya. 


Ilegal mining dan ilegal logging, juga bisnis narkoba adalah solusi yang diambil warga Aceh saat ini, ketika tidak ada pilihan lain untuk sekedar bertahan hidup.


Perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun, tidak membuat rakyat Aceh mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran.


Korupsi besar-besaran selama 21 tahun ini, telah memasukkan Gubernur Aceh dan beberapa bupati, juga  oknum koruptor dibawahnya kedalam jeruji besi. Tetapi menilep uang rakyat belum juga berhenti. Pokir anggota dewan adalah sumber rezeki para maling berjubah kepalsuan. 



Pemerintah Tidak Mampu Membangun Ekonomi


Berbagai sumber kekayaan alam di Aceh tidak mampu membangkitkan ekonomi rakyat. Pemerintah tidak punya visi untuk menggerakkan ekonomi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk rapat dan perjalanan dinas tanpa ada dampak nyata.


Banyaknya hasil bumi, potensi pengolahan kulit hewan, kekayaan hutan tidak mampu diolah pemerintah untuk membangkitkan ekonomi. Laut yang luas membentang dari Samudera Hindia hingga Kutub Selatan, tidak mampu dimanfaatkan untuk rakyat Aceh. 


Justru di bentang dua Samudera itu, ratusan kapal raksasa melakukan aktivitas sebagai pabrik. Berbagai produk mereka kirimkan ke pasar dunia, dari pabrik terapung modern itu. 


Sementara Aceh masih berkutat dengan Kawasan Industri Aceh  (KIA) di Ladong yang belum berproduksi. Pemerintah terlalu gagap untuk mulai melakukan aktivitas pabrik bernilai ekonomi di sana. 


Produksi kulit sapi hanya berhenti untuk membuat kerupuk, tidak diolah untuk produk fashion bernilai tinggi. Seperti membuat tas, tali jam tangan, dompet, sepatu, sabuk pinggang, jaket dan berbagai produksi kulit lainnya.  Rencana pabrik penyamakan kulit di KIA pun kini menguap


Hasil hutan juga tidak diolah untuk bahan baku industri, bahan baku farmasi, padahal berbagai lembaga penelitian telah dibuat oleh Universitas Syiah Kuala. Pemerintah tetap tidak melakukan kerja sama, sehingga membuat perkembangan ekonomi macet. 


Budidaya sapi hanya berhenti pada penggemukan daging, tidak berkembang untuk produksi susu. Menurut data BPS hingga saat ini Aceh merupakan provinsi termiskin di Sumatera, juga memiliki tingkat stunting yang sangat tinggi. 


Di sektor perdagangan juga hanya berputar di kawasan sempit wilayah setempat. Tidak ada orientasi ekspor. Pembuatan kerajinan kulit yang diproduksi pengrajin lokal mengalami hambatan penjualan. 


Kegigihan warga Aceh menggali sumber ekonomi dari sektor pertanian, peternakan, perikanan dan perdagangan, tidak mendapat respon pemerintah untuk menemukan potensi pasar di luar Aceh. Rakyat seolah dibiarkan berjuang sendiri.


Persoalan marketing merupakan sumber utama kemacetan ekonomi. Pemerintah tidak punya tindakan untuk mendapatkan akses pasar keluar negeri atau keluar daerah. Padahal perjalanan dinas dan studi banding sering dilakukan.


Pemerintah tidak melakukan pelatihan yang mencukupi untuk tenaga kerja. Mereka juga tidak menyediakan modal usaha untuk mereka yang mau berwirausaha.


Warga Aceh melakukan sendiri berbagai upaya untuk menggerakkan ekonomi mereka. Sekedar  berpikir asal cukup untuk mengasapi dapur mereka. 


Di gedung-gedung pemerintah, mereka sibuk dengan rapat pimpinan internal. Menghabiskan anggaran setiap tahun untuk makan minum dan perjalanan dinas, tanpa kontribusi maksimal untuk kemakmuran rakyat. 


Operasional gedung-gedung pemerintah yang berdiri kokoh di sepanjang di Jalan Tgk H M Daud Beureuh dan kawasan Kuta Alam, Jalan Sudirman dan berbagai kawasan kota lainnya adalah sumber pemborosan yang menguras uang rakyat. 


Aktivitas ribuan pegawai pemerintahan tidak berkontribusi pada kemakmuran rakyat. Mereka hanya bekerja dalam kapasitas seorang kerani. Datang melakukan absensi, lalu pulang. Tanpa pekerjaan yang bisa membuat rakyat Aceh hidup sejahtera. Dan itu terus menerus terjadi setiap tahun meski gubernur berganti.


Tarmizi Alhagu












Komentar

Tampilkan

Terkini