-->

Warkop Usik Ketenangan Warga Di Pemukiman

Kamis, 24 September 2026, September 24, 2026 WIB Last Updated 2026-09-24T08:00:16Z

 

Sentra Kuphi Lambhuk (Video : Tarmizi)


Banda Aceh - Suara-suara bercakap itu saling bersahutan, saling menjawab, berdebat, dan bercerita. Berdiskusi di puluhan meja yang mungkin hampir mencapai seratusan. Di bawah atap sebuah warkop seukuran lapangan Futsal. 


Dikelilingi puluhan rak makanan berbagai ragam menu tersaji. Ratusan orang menghabiskan gelas-gelas kopi, teh, sanger dan  berbagai minuman lainnya.  


Setiap hari bahkan di penghujung malam, suara-suara itu masih riuh. Terkadang diringi alunan musik, menemani wajah-wajah serius dan bahkan mereka yang dalam kekalutan. 


Warung kopi menjadi tempat orang berbagi cerita. Segelas kopi, segelas sanger atau teh tarek, cukup membuat suasana mengalir perlahan. 

  

Para pekerja yang menyaring kopi dari dapur yang terus mengepul tak kalah sibuknya. Gelas- gelas diisi. Tangan bergerak cepat, mengangkat ke atas dan menurunkan kembali berulang kali saring kopi, ke dalam cangkir aluminium besar. 


Pelayan terus bekerja.  Kopi disaring, teh diseduh tanpa henti. Waktu berjalan, menjelang malam semakin padat. Jalan kampung yang tadinya sepi menjadi riuh, kenderaan lalu lalang mengeluarkan suara bising. 


Begitulah kehadiran warkop- warkop, yang kini semakin banyak berada ditengah pemukiman masyarakat. Dari mulai di Desa Lambhuk, Lampriet, Geuceu, Prada, Lamgugop, Lampaseh, membuat kebisingan terus menerus untuk pemukim disana. 


Siang dan malam suara kebisingan itu, menguak keheningan di rumah-rumah yang dulunya sepi.  Mengusik keheningan di tengah malam, ketika seorang wanita tua sedang bermunajat kepada Tuhannya. 


Desahan zikir yang keluar dari bibir seorang pria paruh baya,  berganti dengan suara dentingan sendok. Berganti suara celotehan wanita-wanita bergincu ditengah malam, dan tertawa terbahak. 


Kini pemukiman yang dulunya damai, tenang dan hening, telah berubah bagai pasar malam.  Pelosok desa sudah seperti pusat keramaian Peunayong. 


Warga yang tinggal di pemukiman dipaksa pasrah. Tak mampu melakukan protes atas setiap ketidak nyamanan, dari kondisi bisnis yang mengganggu ketenangan mereka. 


Pemerintah kota Banda Aceh juga terus membiarkan, tumbuhnya warkop-warkop kekinian dan cafe- cafe baru ditengah pemukiman penduduk. Tiada yang menghalangi kebisingan, yang mengusik doa seorang pria tua ditengah malam. 


Tarmizi Alhagu



Komentar

Tampilkan

Terkini