-->

FGD Monyet Ditengah Rimba Meureudu

Selasa, 29 September 2026, September 29, 2026 WIB Last Updated 2026-09-30T08:06:53Z



Nih cerita berasal dari Bang Pakeh. Seorang lelaki paruh paya di Desa Meunasah Manyang, Meureudu Pidie Jaya. 


Ketika lagi duduk di atas panteu trieng yang berada di bawah meunasah, diapun menceritakan petualangannya. 


Cerita ini pun sebenarnya sudah sangat lama. Mungkin sudah belasan tahun lalu, tapi ketika pada zaman ini MBG (makan bergizi gratis) dan FGD (focus group discussion)  menjadi sorotan.


Sepertinya cerita petualangan Bang Pakeh menjadi relevan. Bang Pakeh saat itu mungkin umurnya sudah sekitar lima puluhan. 


Masa mudanya dia habiskan dalam perantauan, sama seperti kebanyakan pemuda Pidie lainnya. Pergi merantau untuk kabur dari jumpueng dan mata catok. 


Tapi ini bukan petualangan Bang Pakeh dalam perantauan. Ini kisah jenaka dia dalam belantara hutan Meureudu. 


Ketika tidak musim bersawah, Bang Pakeh dan kelompok temannya, sering beraktivitas di gunung. Mereka mencari rotan di  hutan dekat Desa Raweu. 


Desa Raweu adalah pemukiman paling ujung di selatan Blang Awe. Letaknya di tengah hutan. Makin masuk ke dalam hutan lagi, akan bertemu sebuah pos jaga bernama Jambo Kafe. 


Pada masa kolonial Belanda, Jambo Kafe adalah batas terakhir yang mampu dicapai KNIL. Mereka mendirikan Pos Militer di sana, untuk menghadapi perjuangan gerilya Pasukan Meureudu. 


Desa Gaib Japakeh


Makin jauh kedalam hutan dari Jambo Kafe, ada lagi perkampungan yang bernama Japakeh. Desa ini diambil dari nama Fakih Sulaiman, seorang ulama asal Turkey yang mendirikan perkampungan di sana. 


Fakih Sulaiman adalah panglima perang Meureudu. Ia yang menyerbu Malaka saat menggempur pasukan Portugis. Lalu dia dan pasukannya tinggal di belantara hutan. 


Perkampungan Japakeh walaupun telah tidak dihuni lagi, masih menampakkan bekas-bekas perkampungan. Masih tumbuh belimbing sayur di sana, juga masih ada kunyit yang tumbuh. 


Biasanya para pencari rotan menjadikan perkampungan Japakeh untuk memasak. Hal itu, karena masih bisa mendapatkan bumbu rempah, yang hidup di desa tak berpenghuni itu. 


"Tetapi menurut cerita bumbu rempah dari Japakeh, tidak boleh dibawa turun ke kampung. Bentuknya akan berubah, tidak bisa digunakan lagi, " ucap Bang Pakeh. 


Suatu kali rombongan pencari rotan membawa pulang kunyit dari Japakeh. Tetapi sesampai di Meunasah Manyang, kunyit ini berubah penuh bulu, tidak bisa lagi digunakan. 


Semua barang di Japakeh harus digunakan ditempat. Sebagai bentuk pertolongan kepada musafir yang melintas di sana. 


Japakeh menurut cerita bang Pakeh, adalah sebuah desa gaib. Terkadang mereka melihat orang yang sedang shalat di sana, atau suara orang mengaji. Namun ketika didekati semua menjadi hilang. 


Terkadang rombongan Bang Pakeh membawa kerbau besar, bertanduk panjang melengkung. Di dalam hutan mereka menjadikan kerbau itu  sebagai alat penarik kayu, yang ditebang di tengah rimba. 


Desa Japakeh memiliki banyak padang rumput yang luas. Di sanalah para musafir itu mendirikan kemah.


Suatu kali saat melintasi hutan, Bang Pakeh melihat mahluk kecil melompat ke dalam semak. Bentuknya kecil setinggi 60 centi meter, wujudnya menyerupai manusia, dengan telapak kaki membalik ke belakang. 


Kata Bang Pakeh, mahluk itu bernama Aneuk Choe. Penampakannya memang mirip manusia, tapi suaranya seperti burung. Gerakannya begitu cepat, begitu terlihat mereka sudah menghilang ke dalam rimbunan hutan. 


Rapat Bue (Rapat Monyet)




Dari semua pengalaman Bang Pakeh yang paling menarik, adalah ketika mereka bertemu serombongan monyet. Mereka sedang rapat di tengah padang. 


Seekor monyet kecil berdiri di atas batu besar. Di hadapannya duduk kelompoknya dan mendengarkan pidatonya. Dua ekor monyet besar berdiri di samping monyet kecil tadi, yang lagi berbicara di atas batu itu. 


Dua ekor monyet besar dikatakan Bang Pakeh adalah Engkong pengawal. Sementara monyet kecil di atas batu adalah raja mereka, yang duduk mendengarkan merupakan rakyat para monyet. 


Dari cerita Bang Pakeh, rapat monyet itu persis seperti Forum Group Discusion( FGD) sekarang. Semua menyimak terkesima apa kata pemimpin, kalau ada yang tidak patuh langsung dibanting sama Engkong pengawal. 


Itulah rapat monyet yang pernah dilihat Bang Pakeh,  dalam petualangannya mencari rotan dan mencari kayu di Gunung Meureudu. 


Sekarang Bang Pakeh sudah tua. Bilapun dia masih hidup, mungkin umurnya sudah lebih 70 tahun. Saya hanya menyampaikan kembali kisah Bang Pakeh kepada generasi penerus. 


Agar mereka bisa tahu bahwa di hutan ada kearifan lokal sendiri. Ada hukum alamnya sendiri, yang harus kita patuhi, untuk menghindari bencana. 


Tarmizi Alhagu











Komentar

Tampilkan

Terkini