Ads (728x90)

            HM, Banda Aceh - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh menyatakan prihatin dengan maraknya peredaran narkoba di Aceh, apalagi dengan melibatkan kaum perempuan sebagai kurir.  Hal tersebut dikatakan Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser dalam acara coffee morning bersama puluhan wartawan di Kantor BNNP Aceh di Banda Aceh, Senin (18/12). Faisal mengungkapkan dalam waktu belakangan ini, baik di Aceh maupun daerah lainnya tersangka yang sering tertangkap membawa sabu-sabu adalah kaum hawa, dan itu paling sering terjadi di Aceh.

            Ditambahkannya masalah narkoba di Aceh sudah sangat mengkhawatirkan, letak geografis dan kesuburan tanah Aceh juga bisa disalahfungsikan untuk penyelundupan dan penyebar luasan narkoba. Pemusnahan barang bukti narkoba pada tanggal 24 Agustus 2017 yang dilakukan Polda Aceh 1.800 kg ganja kering, 750 batang pohon ganja dan 10.000 gram sabu sebutnya.




            BNNP Aceh telah melakukan operasi penangkapan serta pemutusan jaringan sindikat narkoba di Aceh selama tahun 2017 paparnya. “Salah satu upaya untuk memutuskan persedaran narkoba, membuat Aceh bebas narkoba dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat Aceh, “ ujar Faisal. Menurutnya kearifan lokal merupakan benteng terkuat masyarakat yang memiliki peranan penting dalam upaya mencegah, dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran narkoba di daerah Aceh. Apalagi Aceh terkenal dengan syariat Islam maka akan dilibatkan juga MPU untuk mengeluarkan fatwa haram menerima sumbangan dari hasil penjualan narkoba, karena ada yang menyumbang untuk mesjid, ungkapnya.

Salah satu kawasan yang sanga dikenal sebagai kebun ganja terbesar di Aceh adalah kawasan Lamteuba Blang Tingkeum Aceh Besar. Sudah sering aparat melakukan pemusnahan tanaman ganja di Lamteuba namun sepertinya ganja sulit musnah di kawasan pedalaman tersebut. Oleh karena itu pihaknya ingin kawasan yang sudah dikenal sebagai kebun ganja, mengajak masyarakatnya untuk merubah menjadi kebun tanaman produktif.

Lebih lanjut dia menggambarkan suatu saat Lamteuba bisa menjadi seperti Doi Tung di Thailand. Dulunya kawasan ini dikenal dengan segi emas kebun opium terbesar, namun dengan tekad yang kuat dan dukungan dari berbagai masyarakat kini Doi Tung menjadi kebun tanaman produktif, walaupun memerlukan waktu lumayan lama sekitar 30 tahun. Saat ini sudah dilakukan langkah awal berupa sosialisasi yang melibatkan lahan seluas 20 ha di Lamteuba yang rencananya akan ditanami jagung, demikian tandas Faisal.

Menariknya kata Faisal ada sejumlah tahanan narkoba yang keluar dari penjara mendukung rencana tersebut hingga terkumpul lahan seluas 300 ha. “Untuk mewujudkan rencana tersebut juga akan dibawa beberapa orang untuk langsung menngunjungi Doi Tung. Yang dulunya kawasan menyeramkan kini menjadi tempat pariwisata di Thailand. Tidak hanya jagung bisa juga merambah tanaman lainnya, “ tuturnya di ujung perbincangan. (Soraya).



Posting Komentar