Ads (728x90)



Abon Sudir,  nama yang melekat dikalangan masyarakat , namun  sebutan lengkapnya Teungku Sudirman bin Arifin (65 tahun), lahir di Gampong Meunasah Reudep, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen.
Banyak orang tak tau, dia adalah sosok ulama yang karismatik jebolan Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga.
Sosok ulama yang satu ini terlihat semangat juangnya sangat tinggi dalam dunia pendidikan islam melalalui Dayah yang ia pimpin.
Meskipun Abon Sudir ia sebagai ulama yang cacat kaki sejak muda, namun semangatnya tak pernah menghalangi untuk berbakti pada agama Allah Swt dalam mengajar masyarakat yang membutuhkannya.
Bahkan dia punya tekad perjuangan untuk  mengajar ummat melalui  pendidikan agama  adalah sampai mati ujarnya ,pada suatu  ketika tabloid Moslem bertandang ke Dayahnya Miftahul Falah Al-Aziziyah Cot Batee Geulungku, Pandrah, Bireuen, beberapa waktu yang lalu.
Abon Sudir, sehari-hari menghabis waktunya adalah untuk kepentingan umat, dimana umat saat ini banyak membutuhkan siraman rohani darinya.
Terutama masyarakat  dipedesaan Kecamatan Pandrah, Peulimbang dan beberapa tempat lainnya selalu mengharapkan, agar Abon Sudir bersedia memberi pemahaman keagamaan kepada masyarakat ,atau dengan kata lain adalah bimbingan  rohani darinya.
Meskipun ulama yang satu ini cacat kakinya dan sudah diamputasi, namun  masyarakat masih mengharapkan ilmu agama masih  mengalir darinya. 
“Dapat diakui bahwa Abon Sudir fisiknya sudah mulai sedikit agak menurun, namun pengabdian   nya masih tetap bersemangat untuk masyarakat”, ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Selain kegiatan di Dayah, dia juga sering masuk kampung - kampung  dalam  memberi siraman rohani kepada masyarakat”, ujar  salah seorang santrinya kepada tabloid moslem ketika bertandang ke Dayahnya.
Abon Sudir ini dikenal  dikalangan ulama Aceh sebagai ahli hisab/ru’yah, dan bahkan masyarakat juga mengagumi bahwa ilmu  hisab dan ru’yah  dilakukan Abon Sudir ini selalu tepat dan tak pernah lari dari sasarannya.
Keahlian ilmu Falaqiah Abon Sudir memang sulit untuk ditandingi. Karena sesudah  dia belajar agama  pada almukarram Abon Tgk Abdul Aziz bin Shaleh di Mudi Mesra Samalanga, lalu  kemudian  melanjutkan pendidikan agama di Kampung Brabo, Padang Tiji.
Di Kampung Barabo, Dayah milik nya Tgk M Yusuf (tgk Pante) Abon Sudir  belajar mendalami dalam hal ilmu Falaqiah bersama Tgk Pante.
Selesai  belajar ilmu falaqiah di Dayah  itu, Abon Sudir juga memperdalamlagi ilmu Falaqnya pada Tgk Mustafa Simpang Mulieng, Aceh Utara.
Serta juga sebagai tambahan ilmunya pada Drs Tgk Ali Muda Lhokseumawe, sehingga  hal ilmu hisab dan ru’yah yang diperolehinya sangat memuaskannya.
Abon Sudir  dengan  mengandalkan kursi Roda, dan motor roda dua diantar oleh muridnya turun keberbagai desa untuk memberi bimbingan agama.
Dia  mengajarkan berbagai kitab kuning (kitab gundul), baik dalam hal kupasan hukum Fiqih, Tafsir al-Qur’an, Tauhid dan Tasauf serta berbagai kitab lainya tanpa memungut upah. 
“Ini semua sifatnya tulus ikhlas dan sukarela dalam mengajar  mendidik masyarakat”, ujarnya.
Sedangkan di Dayahnya sebanyak 18 orang tenaga pengajar telah disiapkan. “Bukan berarti Dayah terabaikan, namun pengawasan secara ketat terhadap santriwan dan santriwati tetap dalam pantauannya, agar  pendidikan di Dayah juga jangan sampai terabaikan”, ujar Abon Sudir Serius.
Dayah Miftahul Falah Al-Aziziyah yang terletak ditepi jalan Negara, Kampung Meunasah Reudep, Pandrah, terlihat komplek Dayah itu sangat bersih. Meskipun asrama dan Balai (balee)Dayah tempat menuntut itu sudah agak lapuk dimakan usia.
“Biarlah Balee tempat  beut (balai pengajian)sudah lapuk, namun kualitas pengajian tetap harus lebih baik agar santriwan dan santriwati merasa puas dalam menimba ilmu disini”,ungkap salah seorang santri.
Dia  mengakui, dalam keadaan cacat sudah tidak  mampu untuk bergerak mencari dana  pembangunan Dayah. Lalu kemudian, juga tak ada jaringan baik dengan Dinas di pemerintahan. Namun katanya, kalau ada pihak yang tulus mau membantu  Dayah ini, Abon Sudir dengan senang hati mau menerimanya.
Itulah Abon Sudir, salah seorang ulama karismatik di Kecamatan Pandrah  sebagai dambaan masyarakat untuk terus berbakti dalam memberi pengajaran  agama. Melalui bimbingannya ini diharapkan akan lebih memahami dibidang keagamaan.
Dalam memberi tausyiah agama untuk masyarakat sekitar bukan hanya dia sendiri yang aktif, namun tampaknya ada juga ulama lainnya, dalam rangka pembinaan umat dalam bidang keagamaan. 

Umar A Pandrah.
  


Posting Komentar