Ulama Dari Pedalaman Nisam

Kamis, 05 Juli 2018, Juli 05, 2018 WIB Last Updated 2018-07-05T02:37:55Z
Abu Hasballah Keutapang


Nisam- Dipedalaman Nisam, diantara apitan pegunungan dan hamparan Sawah, tepatnya di desa Keutapang, disanalah seorang ulama sufi Tgk.Hasballah Ali mengabdikan ilmu pada sebuah Dayah Salafi bernama Darut Thalibin, setelah pulang mengembara dari satu Dayah ke Dayah lainnya menuntut ilmu kepada berbagai ulama.

Sosok Hasballah muda sebagai ulama sudah mulai terlihat ketika dia meninggalkan Nisam seusai menamatkan sekolah rakyat (SR), suatu pagi masih dalam basahan kesejukan embun pegunungan, lelaki itu menempuh perjalanan jauh, meninggalkan negeri Pase, menyinggahi Kuta Raja, lalu mendaki keangkeran gunung Geurute.

Disanalah, dibawah kaki Geurute, di pesisir Samudera Hindia, pada sebuah Dayah Salafi bernama BUDI (Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah) Lamno, Hasballah muda menetapkan pijakan kaki, dia memilih menuntut ilmu pada ulama dinegeri Daya, Abu Ibrahim Lamno.

Meski sering terlihat tertidur ketika sedang mengikuti pengajian, Abu Hasballah tidak lazimnya manusia lain, dia langsung bisa mengulang  membacakan kitab  ketika sang guru meminta, “beliau langsung bisa, ujar salah seorang teman sepengajian.”

Bakat dan kecerdasan Hasbalah terlihat jelas di pesantren Mudi Lamno, tidak heran seusai melalui kelas enam pengajian, dirinya sudah dipercaya  mengajar para santri pada kelas dibawahnya ketika guru yang bertugas berhalangan.

Kepercayaan yang diberikan kepada Abu Hasballah ketika muda, merupakan sebuah pengakuan terhadap kecerdasan lelaki dari negeri Pase itu oleh para guru di negeri Daya, berbeda dengan kelaziman  Tgk.rangkang (guru) yang lain, harus mempersiapkan dahulu materi pengajian, tidak demikian bagi Hasballah, dia cukup hadir diantara para santri, lalu langsung mengajar, semua materi kitab mengalir lancar dari kefasihan lidah putra Pase tersebut.

Selama mengikuti pendidikan di negeri Daya, Abu Hasballah juga sempat menjadi buruh tani bersama para santri lainnya pada sawah penduduk, pada masa panen raya, Hasballah muda menyingsingkan lengan, memegang sabit memotong  setiap jumput padi dipersawahan Lamno, dari hasil pekerjaan itulah dirinya membiayai hidup selain mendapat infaq dari para penduduk.

Begitulah sekelumit perjalanan Abu Hasballah dimasa muda, pada tahun 1983 dirinya kembali ke Nisam atas permintaan penduduk setempat untuk memimpin Dayah Darut Thalibin, sebuah Dayah yang didirikan ayahanda beliau bersama masyarakat setempat.

Perjalanan pulang kekampung halaman itu sendiri juga membawa sebuah cerita unik, tepatnya pada 27 Sya,ban,  Abu Hasballah tidak langsung pulang ke Keutapang, karena didalam perjalanan itu ketika melintas disebuah desa dia melihat ada kegiatan “Peh Rapai,”  padahal malam itu bertepatan dengan perayaan agama lain, jadilah Abu Hasballah meneruskan ke Panton Labu, baru kemudian dia pulang ke Nisam.

Ditengah kehadirannya mengajarkan kalam Allah di pedalaman Nisam, Abu Hasballah mendapatkan jodoh ditanah kelahiran, seorang dara Pase Mursyidah binti H.Nurdin Wahid, putri pemuka masyarakat setempat, bersedia disunting Abu Hasbalah, padahal saat itu usianya sudah tidak muda lagi, “lon pike hana so tueng le,” (saya pikir tidak ada lagi yang mau), cetus Abu Hasballah menanggapi perkawinannya itu.

Kehadiran Abu Hasballah membina pengajian kemudian terusik pada penghujung tahun delapan puluhan, pergolakan berdarah antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Jakarta pecah, perang itu mengusik ketenangan Nisam, kesejukan embun pagi di rona subuh berubah menjadi ketakutan.

Diantara kecemasan penduduk itulah Abu Hasballah tetap bersama masyarakat, warga kala itu sudah tidak berani lagi turun ke sawah, kebun ditinggalkan, sebuah kegelisahan muncul oleh adanya sebuah anggapan,  orang yang ke sawah dan berkebun dianggap sebagai informan pihak yang bertikai.

Dikala itulah dengan sendirinya Dayah Darut Thalibin menjadi tempat pengungsian warga, diantara rasa takut para warga terhadap kondisi perang, Abu Hasballah memobilisasi bantuan kepada para pengungsi dengan dibantu oleh para santri dan masyarakat lain.

“Saya hanya membantu meringankan beban musibah yang melanda saudara-saudara saya,” ujar Abu Hasballah suatu ketika dengan penuh kerendahan hati,  begitulah kehadiran Abu dari pedalamaman Nisam ini dalam menganyomi masyarakat.

Bagi masyarakat setempat, Abu Hasballah diyakini memiliki Karamah, sosok Abu hanya bisa ditemui dengan niat yang baik, pernah terjadi beberapa orang yang ingin bertemu Abu tidak kesampaian, walaupun waktu pertemuan sudah direncanakan, tetapi ada saja yang menyebabkan pertemuan itu gagal terwujud, kata Abu Hamidan, seorang yang sangat dekat dengan Abu Hasballah Keutapang.

Abu Hasballah juga dianggap bisa memprediksi kelebihan seseorang sejak lahir dan kesuksesan seseorang dalam meniti karir, masyarakat juga percaya air rajahan Abu bisa meredam kenakalan anak-anak dan remaja, karenanya Abu Hasballah membuat sebuah bak yang khusus berisi air rajahan untuk penduduk yang datang saban waktu.

Begitulah kehidupan Abu Keutapang disela keseharian memimpin Dayah, sebuah Dayah yang jauh dari lintasan ramai, terletak tepat di pertengahan Nisam, jauh dibelakang komplek PT.Arun , bersentuhan dengan kecamatan Muara Dua dan lokasi populer Paya Cot Trieng yang pernah heboh dimasa konflik.

tarmizi alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini