Ads (728x90)


Banda Aceh–Agenda even akhir pekan ini segera berlangsung, bertajuk Malam Puisi Din Saja yang diselenggarakan oleh Jambo Budaya. Mengangkat isu strategi kebudayaan ‘No Meulakee No Meugadee’ dengan maksud mengisi kekosongan even-even seni yang nyaris tidak dilaksanakan sepanjang awal tahun 2020 di Aceh.

Jambo Budaya merupakan sebuah langkah kecil yang diinisiasi oleh kalangan seniman Aceh yang berupaya mempersembahkan sebuah dedikasi untuk menjaga bidang budaya, langkah kecil ini juga diharapkan menjadi lompatan besar di kemudian hari sebagai benteng penjaga budaya di Aceh.

Salah seorang inisiator acara, Muhammad Nazar Ibrahim Nain (Cut Ayah) menjelaskan pentingnya kebersamaan dalam membangun kesenian dan kebudayaan di Aceh.

“Acara ini merupakan perwujudan dari gagasan awal antara seniman, melalui duduk ngopi bersama mereka, muncul berbagai narasi, adukan kopi itu bermakna narasi, ada banyak cerita di sana, ada banyak solusi juga di sana,” ujar Cut Ayah membuka keterangannya terkait even tersebut.

“Saya bergembira menyambut gagasan penyelenggaran even Malam Puisi Din Saja ini, itu sebabnya saya apresiasi setiap ide yang mempersatukan para seniman, dan mengumpulkan mereka dalam suasana Jambo Budaya,” lanjutnya.

Sebagai pengapresiasi dan sambutan baik digelarnya even tersebut, Cut Ayah selaku pemilik Kedai Kopi Cut Ayah, Pango menyampaikan bahwa dirinya mempersembahkan Kedai Kopi miliknya sebagai tempat bagi para seniman berkarya, berdiskusi serta saling silaturrahmi. 

Sarjev Hirzi selaku Ketua Panitia, menyampaikan bahwa ruang apresiasi perlu terus digalakkan, seniman Aceh telah berada pada etape abad baru dalam berkesenian, kebudayaan menurutnya berhak mencatat para pelaku seni dengan segala pencapaian mereka sebagai kiprah. 

“No meulakee no meugadee maksudnya even ini tidak lain merupakan suatu strategi kebudayaan yang kami ingin sampaikan bahwa sudah saatnya seniman memiliki harga diri, jangan menunggu pemerintah atau funding swasta bantu seniman baru mau berbuat karya pertunjukkan, teruslah bergerak,” ungkap Sarjev.

“Biasanya even-even seni budaya di Aceh selalu kosong di awal-awal tahun anggaran, lalu menumpuk di akhir tahun di musim hujan, itulah sebabnya saya katakan dalam keadaan yang telah mentradisi buruk demikian, kita para seniman harus mengubah kebiasaan, jangan menunggu musim hujan baru menggelar pertunjukan seni budaya,” paparnya.

Malam Puisi Din Saja yang diagendakan diselenggarakan pada Minggu malam, 1 Maret 2020 dimulai pukul 20.00 s.d. 23.00 WIB, menghadirkan pertunjukan; Baca Puisi, Essai Seni, Hikayat, Balada, Biola Aceh, Musik Etnik, Krak Coustic, Blues.

Para seniman dan pengunjung di lokasi akan melihat performansi tiga tokoh seniman Aceh yaitu Din Saja (Penyair), Sarjev (Musik), Fuadi S Keulayu (Penghikayat). Karya tiga serangkai tersebut turut dipaparkan dalam bentuk essai seni oleh Muhammad, M Pd pengamat seni budaya.

Penanggung jawab even acara tersebut adalah Nourman Hidayat, seniman seni rupa yang sekaligus mengajak berbagai kalangan dapat membawa semangat kebersamaan untuk memajukan kebudayaan Aceh lewat ngopi dan bercengkrama di Jambo Budaya Pango.

Sementara itu, Sekretaris Acara Muhammad Rain menyebutkan bahwa kegiatan bersifat terbuka untuk umum, para undangan dan masyarakat disuguhkan makanan peunajoh Aceh dan free ngopi Aceh sambil menikmati suasana Kedai Kopi Cut Ayah.

Rilis

Posting Komentar