Laboratorium BPSMB Aceh Mampu Menguji Empat Komoditi Unggulan Eksport Aceh, Diakui Pihak Internasional

Sabtu, 13 Agustus 2022, Agustus 13, 2022 WIB Last Updated 2022-08-13T13:39:41Z


                                    Kepala UPTD BPSMB Aceh melalui Kepala Seksi Pengujian, Msnawar Choli, ST




Banda Aceh – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh terus mencari cara meningkatkan komoditi eksport dari Aceh ke luar negeri. Kini melalui Balai Pengujian Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) yang dikelola Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Disnas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh di Banda Aceh mampu menguji mutu barang komoditi ekspor unggulan Aceh yang kualitasnya diakui pengusaha rekan bisnis internasional.

UPTD  BPSMB adalah laboratorium yang melakukan pengujian untuk komoditi-komoditi  unggulan Aceh, terutama untuk biji kopi, biji kakao, minyak atsiri (Nilam dan Pala). Dan minyak sere wangi  serta komoditi lainnya.

 “ Empat  komoditi unggulan Aceh  yaitu,biji kopi, biji kakao, minyak atsiri (Nilam dan pala),  sudah terakreditasi oleh Komisi  Akreditasi Nasional (KAN). Artinya, pengujian yang kita lakukan untuk empat komoditi itu sudah diakui oleh pihak internasional,” katanya.

Hal ini diungkapkan Kepala UPTD BPSMB Aceh melalui Kepala Seksi Pengujian, Manawar Choli, ST saat ditemui media ini  di kantornya  di JL Banda Aceh – Medan, KM. 4,5, Menasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (11/08/2022).

Jadi artinya kalau ekportir mau melakukan ekspor dan komoditinya  mau diakui disana ( negera tujuan- red) sebagai kualitas yang sesuai harus dilakukan pengujian.

 “Nah laboratorium kita  mampu melakukan itu”,  kata Manawar Choli.

Disebutkannya, untuk ekport  biji kopi, kakao, minyak nilam serta minyak pala. Salah satu persyaratannya adalah hasil uji yang dilakukan oleh laboratorium yang sudah terakreditasi.


“Laboratorium kita ini , BPSMB Aceh sudah terakreditasi untuk empat komiditi itu”, ujarnya menambahkan.

Selain empat komoditi unggulan Aceh yang sudah terakreditasi yaitu kopi, biji kakao, minyak atsiri ( nilam dan pala), kata Munawar Kholil, BPSMB Aceh juga sudah bisa melakukan  pengujian terhadap produk-produk lainnya, seperti gabah, minyak sere, minyak kenanga, namun belum terakreditasi.

Sedangkan  komoditi lainnya yang beredar dan sudah terakreditasi  SNI untuk dua komoditi yaitu garam dan tepung terigu.

 “Untuk barang yang beredar di masyarakat kita uji. Itu sadh terakreditasi juga garam dan tepung terigu ”, ujarnya.

Manawar Choli  jebolan Sarajana Teknik Industri UIN   Yokyakarta ini menambahkan, sebenarnya animo masyarakat memanfaatkan BPSMB Aceh tinggi namun tendala ketiadaan pelabuhan  ekport.

“Sebenarnya animo pengusaha eksport tinggi, Cuma terkendala seperti ini. Kendalanya untuk melakukan ekspor kan harus ada pelabuhan. Nah pelabuhan kita ini kan belum berfungsi secara  maksimal. Makanya pengusaha-pengusaha terpaksa melakukan eksport melalui Medan, pelabuhan Belawan. Itu salah satu kendala, makanya animo untuk menguji di BPSMB ini tidak begitu besar. Jadi mereka melakukan pengujian di Medan yang lebih dekat ”, katanya.

Diakuinya banyak juga yang menguji di BPSMB Aceh seperti baji kopi itu  banyak, ekportir di Aceh. Namun daikuinya kakao sudah hampir dua tahun tidak ada pengujian, ia  mengajui tidak tahu penyebabnya, apakah karena pekebun kakao sudah beralih ke usaha kebun kelapa sawit, kata Manawar Kholil dalam nada tanya.

Ditanyakan tentang pendapat asli Aceh (PAA) Manawar Choli mengatakan, “ Untuk saat ini, karena terakeditasi  baru empat komoditi dan selama ini pun kalau untuk minyak atsiri permintaan sangat turun, jadi sekitar Rp. 50 jutaan dalam setahun”, katanya. (ADV Disperindag Aceh).

 


Komentar

Tampilkan

Terkini