Pedagang Daging Meugang di Simpang Leubok, Montasik, Aceh Besar
Aceh Besar - Harga daging di Aceh Besar, Minggu (15/02) masih Rp 160 ribu/kg pada pagi hari, ujar seorang pedagang di simpang Lubuk, Montasik, Aceh Besar.
Pedagang menyebut sudah mulai menjajakan daging Meugang sejak Sabtu (14/02), dengan menghabiskan dua ekor sapi lokal Aceh.
Sapi Aceh lebih diminati pembeli oleh karena rasanya yang manis, dan memiliki tekstur daging yang lembut. "Sapi Aceh memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari sapi impor," kata pedagang.
Pedagang Daging Meugang di bawah Jembatan Pango Banda Aceh
Penjualan sapi Meugang juga terlihat di bawah jalur naik Jembatan Pango Banda Aceh. Juga ada di jalur ruas Jalan Ulee lheu Banda Aceh
Di sepanjang jalan kawasan Beurawe, juga sudah mulai berjejer lapak penjual daging Meugang. Sejak H-6 Ramadhan mereka sudah membuka lapak.
Pembukaan lapak pedagang daging Meugang, akan semakin ramai menjelang H-2 Ramadhan. Harga dagingnya juga biasanya semakin tinggi.
Meugang adalah tradisi masyakat Aceh saat menyambut bulan suci Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha, setiap tahun warga Aceh merayakan tiga kali hari Meugang, dengan mengkonsumsi daging sapi.
Semula Meugang diadakan satu hari menjelang Ramadhan, namun kemudian oleh para PNS melakukan pengadaan daging Meugang H-2 Ramadhan di kantor mereka. Tradisi itu sempat bertahan selama beberapa tahun.
Perkembangan terakhir daging Meugang sudah dijual pada hari H-6 Ramadhan, seiring berubah pola konsumsi daging warga Aceh pada hari biasa
Semula warga Aceh secara tradisi, hanya mengkonsumsi daging sapi, tiga kali dalam setahun pada hari Meugang, ditambah pada perayaan hari perkawinan, khitanan atau hajatan.
Selebihnya hanya warga menengah atas, yang mengkonsumsi daging sapi pada hari biasa. Namun sekarang warga yang mengkonsumsi daging sapi pada hari biasa sudah semakin banyak.
Pasar daging pun semakin banyak muncul, seperti di pasar Mahirah Banda Aceh, ada belasan lapak penjual daging. Di Beurawe secara rutin ada lapak penjual daging. Di Ulee Kareng juga ada lapak penjual daging, selain toko penjual daging Blang Rakal yang lebih besar.
Pada hari Meugang Ramadhan biasanya warga membeli daging lebih banyak, mencapai dua kilogram sampai sepuluh kilogram untuk setiap keluarga.
Daging itu akan dimasak kari, Sop, masak bumbu putih dan berbagai masakan lainnya. Secara tradisional warga juga mengawetkan daging, dengan mengasap di atas tungku api diatas dapur.
Daging asap itu nantinya akan digoreng, atau dipotong kecil-kecil saat sarapan sahur dibulan Ramadhan. Ada juga pengawetan daging yang direbus lalu dijemur hingga kering.
Selama sebulan Ramadhan warga Aceh akan memakan daging yang diawetkan itu. Seperti daging asap, akan dipotong kecil-kecil, dimakan dengan bumbu kecap saat sahur.
Meugang adalah tradisi wajib dalam masyarakat Aceh. Dirayakan sejak zaman Kerajaan Aceh, dimasa Sultan Iskandar Muda pengadaan daging Meugang, diperintah langsung oleh Sultan untuk membagi daging kepada fakir miskin.
Tarmizi Alhagu