Pesantren Oemar Diyan Ditengah Gunung Indrapuri (Video : Tarmizi)
Aceh Besar - Di tengah gunung Indrapuri, sebuah pesantren berdiri kokoh. Berada di bagian selatan deretan pertokoan Indrapuri.
Sebuah jalan masuk ke pesantren dipenuhi tumbuhan Pohon Bidara. Sepanjang perjalanan dua kilometer ke Pesantren Oemar Diyan, di sisi kiri dan kanan jalan penuh ditumbuhi Pohon Bidara.
Pohon Bidara adalah sejenis pohon berduri, yang daunnya biasa digunakan untuk mengobati seseorang yang terkena sihir.
Di hamparan gunung itulah pesantren Oemar Diyan didirikan, milik keluarga besar Walikota Banda Aceh Hj.Illiza Sa,aduddin Djamal.
Ada ratusan santri mondok di sini. Mereka datang dari berbagai penjuru Aceh. Ada santri pria, ada pula wanita, mereka semua belajar di Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan.
Siang dan malam para santri belajar, menuntut ilmu agama dan pengetahuan umum di sini. Bila pagi hari santri belajar layaknya sekolah umum. Malam hari mereka mengaji kitab-kitab kuning.
Setiap santri Oemar Diyan memiliki dua ilmu sekaligus. Ilmu umum yang diajarkan di sekolah, juga ilmu agama yang diajarkan pesantren.
Dua kurikulum pendidikan umum dan pendidikan pesantren, membuat santri Oemar Diyan berbeda. Mereka memiliki kemampuan ilmu di atas rata-rata.
Pesantren ini dari awal berdirinya, dikelola oleh keluarga besar Illiza Sa,aduddin Djamal. Sebuah keluarga yang memiliki akar keulamaan yang sangat kuat.
Aktivitas Santri Oemar Diyan di dalam mesjid.
Di bagian depan Pesantren Oemar Diyan sebuah mesjid besar menyambut siapapun yang datang. Di sanalah para santri shalat usai belajar siang hari.
Terkadang usai shalat banyak santri mengambil Al Qur'an untuk mengaji. Sebagian berdiskusi berkelompok, adapula yang tertidur di lantai mesjid.
Santri Oemar Diyan Mandi di sungai
Pesantren Oemar Diyan memiliki area yang sangat luas. Dikelilingi oleh pagar beton setinggi dua meter, yang menutup bangunan pesantren dari semua sisi.
Oemar Diyan memiliki gedung yang cukup representatif untuk sebuah pesantren. Memiliki sarana olah raga seperti lapangan voli dan sepakbola.
Di engah area pesantren dibelah oleh sebuah sungai, yang terhubung kepemukiman warga Lam Kareung. Di sanalah terkadang terlihat santri mandi di sore hari.
Mereka berenang bersama, mencipratkan air keseluruh tubuh. Air sungai beriak pelan, oleh gerak puluhan santri, yang mandi secara bersamaan ke dalam sungai yang berada di tengah gunung itu.
Oemar Diyan memang memberi nuansa berbeda, antara kekhusyukan para santri menuntut ilmu. Melafalkan ayat-ayat Allah, memahami kitab-kitab fikih, berpadu dengan keindahan alam pegunungan yang mempesona.
Pendidikan di pesantren Oemar Diyan sejatinya berlangsung selama enam tahun. Dari kelas satu hingga kelas enam, setelah itu mereka baru bisa turun gunung. Untuk melanjutkan kembali pendidikan, atau mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.