Balada Pensiunan PNS Peternak Sapi di Aceh

Rabu, 26 Mei 2021, Mei 26, 2021 WIB Last Updated 2021-05-27T09:38:02Z

 

Belasan Sapi Berada Dikandang Zulkarnen




Jantho- Seorang pensiunan ANS di Jantho melewati usia senja dikandang sapi, lelaki itu bernama Zulkarnen, dia sudah beberapa tahun pensiun dari tempat kerjanya kantor BPN Aceh Besar, lalu membeli sebuah lahan didesa Weu Jantho.

 

Dilahan seluas lebih satu hektar,  Zulkarnen membuat sebuah kandang sapi berbentuk bangunan yang tertutup seperti sebuah gudang, didalamnya dia memelihara 13 ekor sapi.

 

Semua sapi itu dibeli dari warga setempat, setelah dipelihara selama 3 bulan dengan pakan yang diberikan Zulkarnen, sapi peliharaan itu dijual kembali dengan keuntungan yang didapat mencapai empat juta rupiah tiap ekor.



https://i.ytimg.com/an_webp/JvB9ZYBa5kM/mqdefault_6s.webp?du=3000&sqp=CJWWuYUG&rs=AOn4CLAQv2IOEG5bQ70InxWU5OAX2nUMXA

“Saya baru memulai usaha disini, saya menanam rumput untuk pakan sapi, dari mulai pengolahan lahan hingga menyemai benih dan pemupukan, semua dilakukan seperti menanam padi, rumput-rumput ini kami rawat dengan baik, selalu kami siram dan pemupukan dari kotoran sapi peliharaan.”

 

Zulkarnen mengaku telat menekuni usaha peternakan sapi ini, seharusnya dia memulainya lebih awal saat masih bekerja sebagai ANS, lelaki itu mengaku lalai, masih sering membuang waktu sia-sia kala itu.

 

Walau baru memulai usaha ternak sapi, Zulkarnen telah menjual 30 ekor sapi dalam setahun ini, setelah sapi peliharaan dijual, dia membeli kembali sapi-sapi kurus milik warga yang masih sehat, kemudian digemukkan dikandang, tiga bulan kemudian dijual lagi, begitulah terus, katanya.

 



Lahan Rumput Untuk Pakan Sapi Seluas Satu Hektar


Melihat kandang seluas 10 x 15 meter yang bersih, serasa seperti tidak berada dikandang sapi yang biasanya mengeluarkan aroma bau menyengat, kandang Zulkarnen ini sungguh berbeda, lantainya dari semen, dia memberi penyekat tiap ekor sapi seukuran lebar dua meter, didepan sekatan ada semacam kotak tempat pemberian makan, tepat diujung kepala sapi, disisinya ada sebuah kotak kecil lagi tempat pemberian minum.

 

Saat saya tiba siang hari, sapi-sapi itu masih tidur, dari luar kandang terdengar suara lembut alunan musik, ternyata musik itu  berasal dari dalam kandang sapi, saya tersenyum geli, guyonan lelaki tua ini menidurkan sapi dengan musik ternyata boleh juga.

 

Setelah membawa saya berkeliling melihat berbagai jenis rumput yang dia tanam, lelaki itu membawa saya masuk kedalam kandang, dia terlihat menarik ujung tali dikepala sapi yang tertidur dilantai, sapi itupun mencoba bangkit dengan enggan, terdengar suara dengusan.

 

Zulkarnen menjelaskan setelah pemberian pakan pada pagi hari, mulai pukul 10 sapi akan tidur hingga pukul 16:00, saat terjaga sapi akan diberi pakan lagi, mereka akan terus makan hingga malam hari, jelas dia.

 

Selain pakan yang ditanam dilahan peternakan, sapi juga diberi pakan jerami hasil fermentasi,  semua sapi peliharaan Zulkarnen dirawat dengan sangat baik, mulai dari memandikan sapi, membawanya berjalan-jalan keluar kandang, hingga pemeliharaan kesehatan sapi dengan pemberian obat yang diperlukan.

 

Manyoritas dikandangnya Zulkarnen memelihara sapi Aceh, alasannya sapi ini mudah dirawat, tidak perlu sering dibawa jalan-jalan, akan berbeda dengan sapi berjenis besar seperti simental, setiap dua hari sekali harus dibawa jalan-jalan keluar kandang, agar tidak terjadi penumpukan lemak ditubuh sapi yang bisa membuatnya lumpuh.

 

Sapi Simental Seberat 600kg

 

Seekor sapi limousine muda berusia sekitar satu tahun juga terlihat dikandang Zulkarnen, meski usianya masih anak sapi, tapi ukurannya sudah lebih besar dari sapi biasa, sapi-sapi jenis besar ini makannya lebih 20 kg/hari ujar Zulkarnen.

 

 

Untuk merawat semua sapinya dan mengurus pertumbuhan rumput dan pakan, Zulkarnen hanya mempekerjakan seorang pria, dia juga menanam banyak pohon pisang yang akan diberikan sebagai pakan sapi.

 

“Pohon pisang ini banyak seratnya, kita ambil yang masih muda dan banyak getahnya, agar sapi memiliki makanan berserat yang dibutuhkan untuk pencernaan, agar bisa lebih sehat.”

 

Begitulah Zulkarnen menjadi peternak sapi diujung usianya, dia tampil berbeda dari umumnya peternak sapi di Aceh, lelaki ini merawat sapi lebih serius bagaikan merawat seorang bayi, didesa Weu dibawah kaki pegunungan Seulawah dia menuturkan kisahnya

 

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini