Iklan

Kisah Prajurit Batalion 110 Kebal Peluru Dalam Menumpas Pemberontak dr Soumokil

Rabu, 13 Juli 2022, Juli 13, 2022 WIB Last Updated 2022-07-17T15:35:50Z

 


Letnan (Purn) Ilyas Abdullah

 

 https://youtu.be/92NO97r0nLY

 

Banda Aceh - Hari ke empat Idul Fitri lalu, saya berkunjung ke sebuah rumah di kawasan Keutapang, Aceh Besar.  Rumah itu adalah milik orang tua dari teman saya yang kini bertugas sebagai seorang hakim di PN Pekan Baru.

 

Bersilaturhami dengan orang tua dari teman saya itu, sungguh membuka cakrawala saya. Menambah perbendaharaan wawasan saya, dan yang tidak saya sangka dia adalah Letnan Ilyas Abdullah, prajurit terakhir Batalion 110 yang masih hidup.

 

Prajurit  dari Batalion ini direkrut langsung oleh komandan mereka Kapten Hasan Saleh pada tahun 1950, memiliki hanya empat kompi. Inilah batalion TNI paling mengerikan yang pernah ada.  Setelah Batalion 110 selesai  terbentuk, mereka dikirimkan ke medan perang  Sulawesi Selatan untuk menumpas pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar.

 

Kahar Muzakar Menyerah

Keberangkatan Batalion 110 ke Makasar tanpa dibekali persenjataan yang cukup. Separuh senjata batalion ini ditinggal di Aceh, dengan janji akan diganti oleh Kodam di Medan, namun janji itu tidak pernah terlaksana.

 

Melalui perjalanan laut Batalion 110 tiba di Makassar. Satu hari setelah mereka sampai, di meja Kapten Hasan Saleh telah tergeletak sebuah surat yang diletakkan oleh seorang kurir.  Isinya pimpinan DI/TII Kahar Muzakar meminta berdamai dengan pasukan Aceh.

 

Kahar Muzakar mengungkapkan tidak ingin berperang dengan prajurit Aceh.  Kisahnya berlanjut hingga semua pejuang DI/TII Kahar Muzakar turun gunung.  Mereka menolak berperang melawan prajurit Batalion 110.

 

Pasukan Tak Mempan Peluru.

Usai membawa turun semua pejuang DI/TII Kahar Muzakar, Batalion 110 dikirim lagi ke Manado. Di sana mereka harus menumpas pemberontakan dr Soumokil. Malam pertama mereka tiba,  Kapten Hasan Saleh yang terpisah dari pasukannya mendapat serangan. Beruntung dia dapat selamat dan bergabung kembali dengan pasukan Batalion 110.

 

Beberapa waktu kemudian Kapten Hasan Saleh melakukan serangan balasan. Bergugurunlah pemberontak  dr Soumokil,  sementara prajurit Batalion 110 yang terkena tembakan, hanya dalam beberapa detik bangkit kembali membalas serangan.

 

Sejak saat itu pemberontak dr Soumokil tidak pernah punya nyali lagi untuk menyerang prajurit Aceh. Sampai mereka kembali, Batalion 110 hanya melaksanakan tugas pembinaan teritorial, sementara pemberontak pimpinan dr Soumokil lari menyelinap ke gunung.

 

Prajurit Heiho Yang Gagal Dikirim Ke Australia

Kepada saya,  Letnan Ilyas Abdullah yang kini berusia lebih 100 tahun mengungkapkan, dia semula direkrut oleh tentara Jepang untuk dikirim ke Australia. Namun setelah usai pendidikan militer di Blang Pulo - Lhok Seumawe,  Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom pasukan Amerika, sehingga batallah mereka dikirim bertempur menyerang Australia.

 

Perjalanan kemiliteran dirinya diakui Ilyas Abdullah pernah berperang melawan Belanda di Medan Area. Dia menyaksikan langsung keunikan pejuang Aceh dalam bertempur. Ketika pesawat pembawa bom Belanda muncul, prajurit Aceh bukannya bersembunyi, tetapi keluar semua menembak pesawat Belanda. Hasilnya, pesawat tempur Belanda tidak sempat menjatuhkan bom dan memuntahkan peluru.

 

“ Tentara-tentara Aceh itu semua keluar dari lubang menembaki pesawat tempur Belanda. Peluru bagai hujan melesat ke langit, semua prajurit mencari mati syahid dalam perang Medan Area, " ujarnya.

 

Begitulah kisah Letnan Ilyas Abdullah, kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya yang berada di teras rumah. Dia mengambil wudhu untuk melakukan Shalat Dhuhur. Saya pun memohon diri seusai dia shalat, dan mengucapkan terimakasih telah diberikan kesempatan untuk mendengar penggalan sejarah paling berharga darinya.

 

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini