Aceh Utara - Sektor perkebunan di Kabupaten Aceh Utara mulai berdenyut pascabencana. Di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana banjir, harga komoditas pinang dilaporkan terus merangkak naik hingga menyentuh angka Rp15.000 per kilogram, pada Jumat (30/01/2026).
Kenaikan harga ini disambut gembira oleh para petani. Pasalnya, pinang merupakan salah satu komoditi unggulan yang dikenal mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan ekstra, namun kini memberikan nilai ekonomi yang menjanjikan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, rincian harga pinang saat ini adalah: Pinang Belah dan Kupas Kering harganya Rp15.000 per Kg, sementara Pinang Basah harganya Rp10.000 per Kg.
Meskipun harga sedang berada pada tren positif, populasi tanaman pinang di Aceh Utara diakui masih terbatas, karena sebagian besar petani masih terfokus pada tanaman kelapa sawit. Namun, potensi pinang kini mulai dilirik sebagai alternatif yang menguntungkan.
Ibnu Sabil, salah seorang tokoh masyarakat yang juga pensiunan Pemkab Aceh Utara asal Kecamatan Syamtalira Bayu, kini mulai fokus mengembangkan budidaya pinang dan lemon. Menurutnya, pinang dapat menjadi tulang punggung ekonomi tanpa membutuhkan modal lahan yang ekstrem.
"Budidaya pinang tidak harus memiliki lahan luas di pegunungan. Masyarakat bisa memanfaatkan lahan tidur atau pekarangan rumah. Tanaman ini ramah lingkungan, mudah dirawat, dan hasilnya sangat membantu ekonomi keluarga," jelasnya.
Kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi para petani di seluruh pelosok Aceh Utara untuk bangkit kembali setelah terdampak banjir tahun 2025 lalu. Pemerintah daerah melalui instansi terkait juga terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan produktif guna meningkatkan kesejahteraan keluarga
Red
