-->

Mesjid Lam Ateuk Berdinding Setebal Satu Meter Peninggalan Zaman Kuno

Jumat, 23 Oktober 2026, Oktober 23, 2026 WIB Last Updated 2026-10-23T04:16:07Z

 

Mesjid Lam Ateuk Kemukiman Kuh (Video : Tarmizi )


Aceh Besar - Dindingnya sangat tebal. Hampir satu meter. Cat putihnya mengelupas, sedangkan plesternya retak-retak dimakan usia. 


Jika tangan diletakkan di atasnya, terasa dingin. Dinding itu terbuat dari tanah liat, pasir, dan batu karang yang direkatkan dengan kapur.


"Kita melihat ini sebuah masjid kuno, masjid tua, dengan model dindingnya seperti ini. Dindingnya sangat tebal. Dinding dalamnya...  ini dindingnya." ucap saya.


Itulah Masjid Tuha Lam Ateuk. Sebuah masjid kuno di Aceh Besar. Tidak megah seperti Baiturrahman, tidak juga tinggi menjulang.


Ia hanya berdiri sederhana dengan atap tumpang. Halamannya dihiasi paving block heksagonal yang dulunya tempat santri mengaji. Tapi begitu melihat detailnya, sejarah itu terasa membekas.


Tiang-tiang kayu di dalamnya masih berdiri. Putih, sederhana. Terlihat sambungannya masih memakai pasak kayu, bukan paku besi.


Sepertinya masjid ini sudah mengalami renovasi sehingga sudah memakai paku. Semula tidak memakai paku, ini semula pakai pasak.


Di situlah arsitektur Aceh dalam mesjid. Tukang-tukang Aceh dulu membangun masjid seperti membangun kapal. Tanpa paku besi. 


Mereka memakai pasak kayu, sistem knock-down yang membuat bangunan lentur saat gempa. 


Ilmu yang datang dari perjumpaan tukang Aceh, Cina, dan Persia di pelabuhan-pelabuhan Kesultanan Aceh Darussalam zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).


Teknik dinding tebal hampir 80 sentimeter itu juga sama dipakai di Masjid Poteu Meureuhom Labui dan Masjid Indrapuri. Dinding tebal bukan tanpa alasan.


Itu benteng. Itu penanda bahwa masjid di Aceh tempo dulu bukan sekadar tempat shalat. Tapi pusat pertahanan, pusat musyawarah, pusat peradaban.


Di sudut kiblat, masih ada mimbarnya. Putih, sederhana, berkubah kecil. Meski sudah direnovasi, bentuk aslinya masih dipertahankan. 


Dari mimbar-mimbar seperti inilah Islam disiarkan ke pelosok-pelosok Aceh Besar. Jauh sebelum Belanda datang, jauh sebelum tsunami 2004 meluluhlantakkan segalanya.


Hari ini, Masjid Lam Ateuk tampak sepi. Di luarnya hanya ada motor terparkir dan sepeda anak-anak. 


Jemuran berkibar di belakang tembok. Tidak ada papan cagar budaya yang besar. Tidak ada penjaga khusus.


Padahal, dinding setebal hampir satu meter itu menyimpan pelajaran, Islam di Aceh tidak datang dengan kemegahan instan.


Ia datang dengan kesabaran membangun dinding setebal hampir satu meter. Memahat pasak satu per satu, agar ia tetap berdiri ratusan tahun kemudian.


Jika kita biarkan retak-retak di dinding itu semakin lebar, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan. Yang hilang adalah ingatan bahwa kita pernah membangun peradaban dengan tangan sendiri.


Tarmizi Alhagu 


Komentar

Tampilkan

Terkini