Ads (728x90)





Banda Aceh-Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPD HIMKI Aceh) menyelenggarakan acara seminar pengembangan UKM menuju Agroindustri di Gedung Balai Kota Banda Aceh pada Kamis (28/02).

Acara tersebut dirangkai dengan deklarasi pedesaan menuju gampong emas gemilang di Aceh, pelatihan perajin kayu rotan berbasis UKM Kota Banda Aceh, Mou Yayasan Desa Emas Indonesia dengan KSU Al-Afgani Aceh.

Adapun materi seminar pengembangan UKM menuju Agroindsutri Aceh menghadirkan pemateri dari Kementerian Perindustrian RI tentang “Peranan Kementerian Perindustrian mengintegrasikan industri hulu-hilir memperkuat UKM dan Agroindustri, pemateri kedua DPP Himki Pusat tentang “Peranan Himki dalam mengembangkan industri hulu-hilir mebel dan kerajinan menuju pasar nasional dan ekspor Indonesia.

Pemateri ketiga dari Kementerian Desa tentang “Peradaban yang tangguh mandiri bermartabat sejahtera dan membawa dampak pembangunan industri pedesaaan. Pemateri keempat dari Bank Indonesia tentang “Peranan perbankan dalam rangka pengembangan UKM dan agroindsutri menuju pasar eskpor, dan pemateri kelima dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) tentang “Industrilisasi pedesaan menuju gampong emas gemilang di Aceh”.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Drs. Muhammad Raudhi, M Si mengatakan perkembangan industri kecil menengah di Aceh belum begitu signifkan, masih banyak sentuhan yang perlu difasilitasi. Menurutnya, hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri, semua pihak yang berkaitan harus berkoloborasi dengan membina, mendampingi dan membantu.

“Target kita ini menginvertaris dulu seluruh Aceh mana produk yang bisa dikembangkan, dan kita kita kemas untuk lebih tinggi lagi, berkembang lagi bisa masuk pasar lain, “ terangnya.

Lebih lanjut, Raudhi menjelaskan jika satu desa satu produk, bergerak semua desa di Aceh, hanya saja sejauh mana rencana pengiriman barang, ordernya bagaimana. Menurutnya ada lembaga yang mengurus dan bagaimana skala produksi bisa diperbesar.

Sementara itu, Ketua DPD Himki Aceh Razali Idris memaparkan industri mebel di Aceh umumnya masih industri keci dan menengah, misalnya ada pengusaha mebel kayu rotan masih sangat kecil dengan jumlah pekerja 3 hingga 5 orang.

“Tapi ada yang bagus di Aceh, sekarang perajin mebel kayu rotan pekerjanya 70 persen berasal dari Jepara dan Cirebon. Ke depan pemerintah, Himki, perajin, IKM kayu rotan dan perajin lain harus dijalankan dengan bagus. Dengan acara ini terbuka untuk berkembang, “ urainya.  

Menurutnya, modal masih menjadi kendala bagi pengusaha mebel, karena itu belum bisa ekspor. Nilai bahan baku hanya 25 persen, sementara industri pengolahan, eksportir dan pebisnis kayu rotan bernilai 75 persen. Harapannya, bisa berjalan industri mebel kayu rotan di Kawasan Industri Aceh (KIA) karena ada investor yang berminat.

Soraya

Posting Komentar