Dyah Erti Sebut Tak Ada Hubungannya Komsumsi Susu Dengan Tingkat Stunting Di Aceh

Senin, 07 Maret 2022, Maret 07, 2022 WIB Last Updated 2022-03-07T12:38:19Z


https://youtu.be/izjeA6INv6c



Banda Aceh-Kewalahan menurunkan tingkat stunting di Aceh, membuat BKKBN Aceh mengundang Depag Aceh dalam sebuah pertemuan bertajuk Kegiatan Implementasi Elsimil Tk Kab/Kota, yang diadakan di Hermes Hotel Senin, 7/3 di Banda Aceh.

 

Ketua TP PKK Aceh DR. Dyah Erti Idawati MT, membeberkan  pentingnya peran jajaran pejabat departemen agama, terutama mereka yang langsung menangani calon pengantin,   “ perlunya pembinaan oleh para kuakec kepada calon pengantin sejak awal, terutama kondisi kesehatan ibu hamil untuk mencegah stunting.”

 

Dikatakan Dyah kondisi kesehatan ibu hamil pada 1000 hari pertama kehidupan bayi, sangat menentukan kelanjutan kesehatan bayi tersebut, disaat itulah perlunya asupan gizi yang cukup harus dikomsumsi oleh ibu dan bayinya.

 

Dyah juga menyarankan seorang ibu harus menyusui bayi sampai 2 tahun, seperti yang telah menjadi tradisi wanita Aceh menyusui anaknya sampai 2 tahun sesuai anjuran agama.

 

Istri Gubernur Aceh ini juga mengungkap sebuah mitos yang terjadi wilayah pedalaman dataran tinggi Gayo, ada pendapat disana bila banyak menyusui akan membawa kematian untuk bayi, kondisi seperti itu dikatakan Dyah menjadi penyebab tingginya angka stunting di Aceh.

 

Stunting atau dikalangan masyarakat lebih dipahami sebagai kerdil akibat terhambatnya pertumbuhan tubuh, menjadi suatu persoalan besar di Aceh, pada tingkat nasional mencatat angka stunting di Aceh masih diatas 30 persen, namun Ketua TP PKK Aceh menyebut angka stunting hanya 25 persen.

 

Selama lebih 2 tahun berkampanye untuk menurunkan tingkat stunting di Aceh, tampaknya belum memberikan penurunan yang signifikan, walaupun berbagai kegiatan dengan melibatkan berbagai pihak telah dilibatkan.

 

Dyah sendiri menolak mengakui bahwa tingginya tingkat stunting di Aceh,  sangat berkaitan dengan rendahnya mengkomsumsi susu sejak balita dan usia selanjutnya, dia mengatakan tidak ada hubungannya antara susu dan terjadinya stunting, “ itu kuno, dahulu  orang berpikir seperti itu, tetapi sekarang tidak.”

 

Apa yang dikatakan Dyah Erti dibenarkan oleh dr. Sulasmi seorang ahli kesehatan dari Dinas Kesehatan Aceh, yang paling berperan pada tingkat stunting adalah asupan gizi pada 1000 hari kehidupan pertama, kata dia.

 

                                                                      dr.Sulasmi

Kondisi demikian berbanding terbalik oleh apa yang dialami para warga Aceh yang bermukim di Eropa, seperti para pemuda Norwegia, Denmark dan Swedia, mereka mengakui tingginya pertumbuhan anak-anak mereka, karena tingginya komsumsi susu sejak balita hingga usia setelahnya.

 

Selain susu mereka juga mengkomsusi daging yang banyak melalui makanan kebab, burger dan pizza, itulah yang menyebabkan anak Aceh di eropa mengalami pertumbuhan lebih tinggi dari orang tua mereka, ungkap  Bukhari seorang warga asal Pasie Lhok yang tinggal di Stavanger- Norwegia.

 

Norwegia memberikan subsidi yang besar untuk warganya dalam komsumsi susu, harga susu di negeri itu lebih rendah daripada harga sebotol aqua, hal ini tidak terjadi di Aceh, harga susu terlalu mahal hingga tidak mampu dikomsumsi oleh warga berpenghasilan rendah.

 

Buruknya kondisi itu diperparah lagi oleh sikap pemerintah yang tidak memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa mengkomsumsi susu dan daging akan memberikan tingkat pertumbuhan yang tinggi, juga menyumbang dalam tingkat kecerdasan anak.

 

Tarmizi Alhagu

 

 

 

 

 

 



Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+