Culture Value GAYO MOUNTAINS

Senin, 15 Oktober 2018, Oktober 15, 2018 WIB Last Updated 2018-10-15T10:30:34Z


Ir. Tarmizi A. Karim, M.Sc (Penjabat Gubernur Aceh)
Ir Tarmizi A.Karim, M.Sc
Seperti apa jadinya bila seorang penjabat Gubernur Aceh bicara tentang kopi, tentu akan terbayangkan di benak orang, dia akan bicara sepintas saja, sebatas kulit luar saja, hal itu tentu dapat dimengerti, diantara begitu banyak tugas Gubernur,  kopi adalah  bahagian terkecil dari hal yang harus ia hadapi.
Namun pemikiran itu akan segera terbantahkan ketika  mendengar langsung dari mulut Ir.Tarmizi A.Karim, M.Si saat dia bicara tentang kopi, mantan Bupati Aceh Utara itu ternyata  mandalami luar dalam komoditas yang tumbuh sumbur di pegunungan Gayo itu.
Pengetahuan Tarmizi tentang kopi bukan kepalang tanggung, dia bisa mengulas dari masa awal, ketika  kopi mulai ditanam, dirawat, dipetik hingga pada tahap processing.
Mendengar Tarmizi bicara, kita seakan sedang mengikuti kuliah umum pengetahuan tentang kopi, dia mengupas habis minuman paling popular dalam masyarakat Aceh itu.
Bagi Tarmizi, kopi ternyata tidak hanya sebatas komoditas dan kenikmatan, tetapi berkaitan langsung dengan culture dan budaya masyarakat Aceh, wartawan Tabloid Kupi sempat terkesima menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut pejabat Gubernur Aceh itu.
     Mata  tak lepas menatap setiap gerak kata yang keluar, demikian pula telinga tak melewatkan setiap kata yang meluncur, pun demikian ketika dia menutur tentang tradisi  masyarakat Gayo mengolah kopi,  Harapan besar terhadap masa depan kopi Aceh terbentang luas dalam pembicaraan penjabat Gubernur Aceh itu, bagaimana kopi Aceh yang ditanam dari dataran tinggi Gayo bisa melintasi Samudera, bertahta di lima benua dan membekas disetiap lidah warga dunia. Dan bagaimana ketika dia berkata, kini bukan zamannya lagi kopi hanya dijual sebagai sebuah produk, dijual hanya berdasar timbangan kilo, tetapi melangkah jauh menghadirkan kopi Aceh,  sebagai sebuah culture masyarakat Aceh yang dikenal dunia.
     Vision kopi Aceh dikatakan Tarmizi telah menjadi milik dunia saat ini, warga dunia telah datang dan melihat langsung bagaimana warga Gayo mengelola kebun kopi mereka, bagaimana masyarakat Gayo menghadirkan rutinitas menanam kopi sebagai ritme budaya mereka.
Culture petani Gayo itulah yang menurut Tarmizi kini melekat dalam nama kopi Aceh dimata dunia, bagaimana para penikmat kopi diseluruh dunia mengetahui begitu santunnya orang Gayo mengolah kopi.
“ Maka disebutkanlah kopi kita di Gayo itu kopi organik, kopi yang ramah lingkungan, kopi yang sudah bebas dari kimia, karena apa?, karena petani-petani kita sangat biasa dengan gaya tradisional, sesuai dengan budaya mereka turun menurun, tetapi membuat kopi kita bertambah unggul.”
Filosofi Musang.
Musang bagi Tarmizi, menjadi mahluk penting dalamTim tabloid KOPI foto bersama PJ. Gubernur Aceh pada acara silaturrahmi di Meuligoe Acehpembudidayaan kopi di Aceh, karena hewan malam yang dikenal para penikmat kopi sebagai Luwak itu, ternyata membawa pengaruh besar dalam kualitas kopi yang dipetik para petani kopi di Gayo.
Ilmu musang menjadi keharusan bagi para petani  untuk diadopsi dalam proses pemetikan kopi di dataran tinggi itu, sebagaimana musang hanya memetik kopi yang sudah benar-benar masak dan berwarna merah, maka demikian pula kopi dipetik oleh petani.
Jadi kualitas kopi tergantung bagaimana kita menseleksi daripada biji kopi itu sendiri, kata Tarmizi, “ seperti apa yang dilakukan oleh musang,” makanya kopi Luwak itu kopi yang paling unggul, kata dia.
“Keunggulan Luwak bahwa dia tidak akan  makan kalau bukan yang betul-betul masak, dia tidak akan mau makan kalau bijinya sudah rusak, dia tidak mau makan kalau bijinya sudah busuk, dia tidak mau makan kalau bijinya sudah kena hama, ya itulah keunggulan daripada Luwak.”
Premium Kopi.
Dengan berbagai keunggulan dari kopi Aceh, terutama dengan kekuatan besar dari kopi Arabica yang memiliki lahan lebih 50 ribu hektar di Gayo, Penjabat Gubernur Aceh merasa sudah sangat pantas para petani mendapatkan premi dari penjualan kopi Arabica di dunia.
Besarnya kekuatan produksi kopi Arabica di Aceh, membuat tidak bisa ditandingi oleh penanaman kopi di  kawasan lain, terutama di Asia, lahan kopi Aceh masih yang terbesar, kata Tarmizi.
“ Ini kan kekuatan, nah bagaimana kita memanfaatkan kekuatan ini untuk masa depan, maka Arabica ini harus masuk dalam kelompok apa yang kita sebutkan premium kopi, premium kopi inilah yang menentukan sebuah ke khasan di dunia.”
Bila Aceh berhasil mendapatkan premium kopi, maka sekian persen dari harga pasar dunia untuk penjualan kopi Arabica, akan dinikmati oleh para petani kopi di Gayo,” dengan demikian mereka akan tetap menjaga keunggulan produksi kopi Arabica.”
Kualitas kopi Arabica yang dihasilkan para petani di Gayo terlihat dari bodi yang bagus dan aroma yang sedap, demikian juga tingkat keasaman kopi Gayo sangat sedikit, terang Tarmizi A Karim.
Dari soal rasa, kopi Aceh inipun tidak bisa ditandingi, begitu diminum langsung terasa kental dilidah, dengan aroma yang menggerahkan kerongkongan, artinya kopi kita ini sangat strong sekali, ujar penjabat Gubernur itu.
“ Soal bodi saja kopi kita bila di kampung terbiasa orang berkata, Kapeugot Kupi Siat Beu Jeut Cet Peuraho (bikin kopi sebentar yang bisa cat perahu), keras sekali kopi kita, benar-benar terasa kopinya.”
Kualitas
Meski kopi Aceh sudah masuk dalam kopi unggul dunia, disamping kopi unggul lainnya seperti kopi Jamaica (Blue Montains) yang ditanam di lereng-lereng gunung Merapi Jamaica, dan kopi Kalimanjaro yang juga unggul di dunia.
Penjabat Gubernur Tarmizi A. Karim juga meminta agar petani kopi tetap menjaga kualitas, baik dalam pemetikan dan processing, seperti pada masa penjemuran, janganlah kopi di jemur ditanah, kata dia.
“Kopi memiliki sifat hidroskopis, dia menyerap semua bau, bila dijemur ditanah, maka dia akan menyerap bau tanah, demikian juga bila dijemur disembarang tempat, dia akan menyerap bau ditempat itu, sehingga membuat rasa kopi tidak sedap lagi.”
Tarmizi menyarankan agar petani melakukan penjemuran kopi dengan menggunakan meja khusus, apalagi dengan kondisi alam Gayo dengan sinar ultra violet saat penjemuran, bisa menambah aroma sedap kopi ketika disajikan, kata dia.
Penjabat Gubernur Aceh ini juga menaruh harapan besar, jangan sampai dalam pembudidayaan kopi para petani  dibiarkan terkatung-katung sendiri, pemerintah harus memberi perhatian besar dalam men support areal kopi di Gayo.
Dia juga berharap dibangun industri-industri kopi di Aceh, baik oleh pemerintah maupun pengusaha yang ada di propinsi Aceh, Tarmizi  yakin dengan keunggulan kopi Gayo, orang akan datang untuk membangun industri kopi disana.
Tarmizi Alhagu
Komentar

Tampilkan

Terkini