Aceh Besar - Sekawanan kerbau berkulit Albino berjalan beriring, merumput di sebuah padang di Desa Durung Aceh Besar, pada Minggu pagi, (17/05).
Sepasang induk dan anak kerbau berkulit albino itu, terlihat saling menempel, berdekatan dengan dua kerbau besar lainnya.
Kerbau Albino yang di Aceh disebut " Kerbau Jagat, " merupakan pengecualian yang jarang ditemukan. Kerbau ini biasanya lebih agresif dan buas, tidak sejinak kerbau normal yang berkulit hitam.
Kerbau albino biasanya sulit ditaklukkan, kala anak-anak petani menjadikannya tunggangan, kerbau ini berlari kencang bahkan terkadang menyeruduk saat mau ditunggangi.
Desa Durung memiliki populasi kerbau albino yang lumayan jumlahnya. Sebagian kerbau di sana terlihat memiliki campuran warna antara hitam dan albino.
Populasi kerbau Desa Durung, biasanya terlihat ketika mereka melintas di jalan Krueng Raya, menyebrang jalan dari utara yang berawa menuju padang rumput di selatan.
Durung adalah sebuah desa berjarak 20 kilometer di timur Banda Aceh, berada di dekat pesisir dan himpitan gunung, dengan kondisi lahan penuh tebaran baru besar di atasnya.
Tidak ditemukan sawah di desa ini, warganya mencari nafkah dari beternak, nelayan, menghancurkan batu gunung untuk dijual, sebut seorang wanita warga desa tersebut,
Satu-satunya sumber air dari sebuah sungai yang membelah Desa Durung kini kering. Sungainya tidak mengalirkan air lagi, batu-batu terlihat berserakan didasar sungai.
Seiring berubahnya alam, berubah pula pola mencari nafkah warga Durung, mereka tidak bisa lagi mengandalkan pohon kelapa yang ditanam di kebun.
Kondisi tanah yang berbatu dan faktor air yang sulit, membuat warga Durung kesulitan untuk bertani. Beternak sapi pun kesulitan mencari rumput di desa ini, sebut warga.
Akhirnya warga memilih untuk membelah batu gunung, mereka jual kepada truk pengangkut yang masuk ke desa Durung, selebihnya warga desa mencari penghasilan di luar kampung mereka.
Tarmizi Alhagu