Teropong Bang Midi
![]() |
| Tarmizi Alhagu |
Hujan sudah beberapa hari turun. Kemarin hujan, tadi malam juga hujan. Bagi kita di Aceh, ini hal biasa. Hujan di musim hujan, panas terik di musim kemarau, itu sudah lazim.
Tapi pernahkah kita bertanya, kenapa pagi ini begitu dingin? Sampai kita harus menarik selimut tebal, bahkan tak sanggup menyentuh air wudhu. Padahal hujan sudah berhenti.
Hal lumrah seperti ini selalu kita abaikan. Kita anggap biasa saja, tanpa mencari jawabannya. Padahal dingin yang berlebihan itu tidak hanya soal hujan.
Penyebabnya adalah rumah kita sendiri
Rumah yang dibangun dengan konstruksi beton akan sangat berbeda dengan rumah yang dibangun dengan konstruksi kayu.
Rumah beton bersifat menyerap. Ia menyerap dingin dari luar dan memantulkannya ke dalam rumah. Ia juga menyerap panas dari luar dan memantulkannya ke dalam.
Itulah mengapa pagi ini kita kedinginan menusuk di dalam rumah beton, dan kepanasan menyengat di siang hari di dalam rumah yang sama.
Kita menganggap itu biasa. Padahal di negara lain, hal sekecil ini dipikirkan serius.
Ada sebuah negara yang sepanjang tahun hidup dalam himpitan dingin. Bahkan di musim panas, pagi hari suhunya hanya 7 derajat Celcius.
Di musim dingin bisa mencapai minus 16 derajat Celcius. Hidup di bawah titik beku, lebih dingin dari di dalam kulkas.
Negara itu adalah Norwegia.
Karena sepanjang hidup mereka bergulat dengan dingin, mereka memikirkan cara mengalahkannya. Mereka tidak membangun rumah dari beton, mereka membangun rumah dari kayu.
Mayoritas rumah di Norwegia berbahan baku kayu. Kayunya diawetkan dengan teknologi, tahan ratusan tahun. Banyak rumah di sana sudah berusia 600 tahun dan masih kokoh berdiri.
Coba tanya ke diri kita: di Aceh, di mana kita bisa menemukan rumah yang berusia 600 tahun? Hampir tidak ada.
Yang ada mungkin hanya beberapa, seperti Rumah Tgk. Chik Awe Geutah di Peusangan Siblah Krueng, Bireuen. Selebihnya?
Rumah kayu kita paling bertahan 40 tahun. Setelah itu dimakan rayap, rapuh, harus dibongkar. Itu karena kayu yang kita pakai tidak diawetkan.
Orang Norwegia itu IQ-nya biasa saja, tidak lebih pintar dari kita. Tapi mereka hidup sederhana dan bersahaja. Prinsip mereka jelas: setiap kayu yang ditebang, wajib ditanam kembali. Tidak boleh ada yang menebang tanpa izin pemerintah.
Logikanya sederhana. Kayu rumah mereka tahan 600 tahun. Artinya, ketika kayu itu ditebang untuk membangun rumah, pada saat yang sama mereka tanam bibit baru di tempat yang sama.
Setelah 600 tahun, sudah setinggi apa pohon itu? Berapa puluh rumah lagi yang bisa dibangun dari sebatang pohon yang berusia 600 tahun itu?
Kita tidak begitu. Kita hanya tahu menebang, tidak mau menanam kembali. Padahal dalam rentang 40 tahun saja, kayu yang kita tanam di gunung sudah memasuki usia tua, sudah layak ditebang untuk membangun rumah lagi. Tapi kita tidak melakukannya.
Di sinilah bedanya kita dengan Norwegia. Mereka menjaga alam untuk menjaga kehangatan rumah mereka.
Kita? Kita adalah bangsa teuleubeh.
Bangsa yang pernah dimangsa tsunami 2004, dan ditenggelamkan banjir 2025. Kita merasakan dinginnya air bah, tapi kita tidak pernah belajar dari dinginnya pagi di dalam rumah beton kita sendiri.
