Proses Perubahan Ideologi Syi’ah Ismailiyyah ke Sunni terhadap Universitas Al – Azhar Cairo

Sabtu, 10 Desember 2022, Desember 10, 2022 WIB Last Updated 2022-12-11T01:39:50Z
 

Icha Mauliana

Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Icha12mauliana@gmail.com



Universitas Al Azhar Kairo Pusat Doktrin Syiah Pada 
Masa Kekuasaan Dinasti Fathimiyah






Abstract

The discussion about Al-Azhar University is a very interesting discussion, where this university was first established during the Fatimid dynasty. As we know this kingdom has a big role, namely introducing Muslims to science. However, this dynasty caused a lot of controversy which shocked the Islamic world. On the other hand, this kingdom is said to be an extreme kingdom that is intolerant, oppresses Sunni Muslims or Ahlussunnah wal Jamaah. The history of the kingdom which was filled with oppression, fraud, and deviation from Islamic teachings is also another side that needs to be raised and highlighted. Before discussing ideological changes at this university, we first discuss the ideology of the dynasty that founded Al-Azhar University, because this is what underlies its political movements. The Fatimid dynasty was a kingdom with a Shia ideology, more precisely Ismaili Shia. However, now that the University has become Sunni, the ideology was changed by commander Salahuddin al-Ayyubi.

 

Keywords: The Fatimiyah Dinasty, Universitas of al – Azhar, Salahuddin al – Ayyubi

 

 

Abstrak

Pembahasan mengenai Universitas Al –Azhar adalah pembahasan yang sangat menarik, dimana Universitas ini pertama sekali didirikan pada masa Dinasti Fatimiyyah. Sebagaimana yang kita ketahui kerajaan ini memiliki peran besar yaitu mengenalkan umat Islam pada ilmu pengetahuan. Akan tetapi Dinasti ini banyak menimbulkan kontroversi yang cukup menggegerkan dunia Islam. Di sisi lain, kerajaan ini dikatakan sebagai kerajaan ekstrim yang intoleran, menindas muslim Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah. Sejarah kerajaan yang dipenuhi dengan penindasan, penipuan, dan penyimpangan dari ajaran Islam juga menjadi sisi lain yang perlu diangkat dan diketengahkan. Sebelum membahas perubahan ideologi di Universitas ini, terlebih dahulu kita membahas ideologi Dinasti yang mendirikan Universitas Al – Azhar, karena inilah yang melandasi gerakan politiknya. Dinasti Fatimiyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syiah, lebih tepatnya Syiah Ismailiyah. Akan tetapi saat ini Universitas tersebut sudah menjadi Sunni, ideology tersebut diubah oleh panglima Salahuddin al – Ayyubi.

 

Kata Kunci: Dinasti Fatimiyyah, Universitas al – Azhar, Salahuddin al - Ayyubi

 

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai peradaban Islam seolah tidak pernah ada habisnya, karena selalu menjadi kajian yang menarik ketika diajak menelusuri peninggalan-peninggalan bersejarah dalam Islam. Salah satu kajian itu adalah lembaga pendidikan tinggi Islam Al-Azhar merupakan bukti otentik awal peradaban Islam di masa Dinasti Fatimiyyah. Ketertarikan penulis berawal dari maraknya Universitas ini yang berideologi Syi’ah Ismailiyyah akan tetapi universitas ini merupakan salah satu lembaga pendidikan kebanggaan ummat Islam. Sejarah telah mencatat betapa eksistensi Al-Azhar dari masa awal Dinasti Fatimiyyah hingga hari ini menyimpan banyak cerita yang sangat menarik. Tidak hanya itu Al-Azhar juga berkontribusi sangat besar pada perkembangan peradaban dan intelektual Islam. Banyak ilmuwan-ilmuwan besar yang lahir dari sana. Satu hal yang tak kalah penting adalah bahwa ternyata sistem pendidikan yang ada di Al-Azhar ternyata diadopsi oleh lembaga pendidikan yang ada di Negara-negara Barat.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research), tulisan ini akan mencoba mengungkap kembali bagaimana historis Al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyyah yang berideologi Syi’ah Isma’iliyyah dan faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pendidikannya, dan bagaimana proses perubahan ideology Syi’ah ke Sunni di Universitas tersebut.

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Awal Pembentukan Dinasti Fatimiyah dan Berideologi Syi’ah Ismailiyyah

Puncak kemerosotan kekuasaan khalifah-khalifah Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan politik Khalifah Abbasiyah. Khilafah-khilafah yang memisahkan diri itu salah satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah sekte Ismailiyah, yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan tentang pengganti imam Ja’far al-Shadiq yang hidup antara tahun 700-756 M.

Misi utama Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah putri Rasul dan istri dari Ali ibn Abi Thalib. Akan tetapi disini terdapat dua pandangan yang berbeda; sebagian berpendapat mereka  bukanlah keturunan Fatimah az-Zahra sedangkan sebagian lain berpendapat bahwa mereka adalah keturunan Fatimah.[1]

Saya sebagai penulis disini berpendapat Dinasti Fatimiyyah bukanlah keturunan dari Fathimah Az-Zahra. Ini dikarnakan jika ditelusuri dari sejarah, Dinasti Fatimiyyah adalah perpecahan dari Dinasti Abbasiyah. Jika mereka mengatakan dirinya adalah keturunan dari Fatimah Az-Zahra  yang mana Dinasti Abbasiyah mereka penisbatan kepada Abbas Radhiallahu ‘Anhu yang berpemahan sunni. Abbas Radhiallahu ‘Anhu adalah paman Nabi SAW dan Fatimah Az-Zahra adalah putri Rasullullah SAW, artinya Abbas dan Fatimah masih sama-sama ahlul bait. Lalu mengapa Dinasti Fatimiyyah memberontak Dinasti Abbasiyah jika mereka mengaku Alawiyah? Ini dikarnakan Dinasti Fatimiyyah bukanlah keturunan daripada Fatimah Az-Zahra. Dan Dinasti Fatimiyyah bukan Sunni akan tetapi mereka berideologi Syi’ah, lebih tepat Syi’ah Ismailiyyah. Dan ini dikuatkan oleh Yusuf Al-Isy dalam bukunya Dinasti Abbasiah mengatakan “saya lebih berpihak kepada mayoritas sejarawan yang berpendapat bahwa orang-orang fatimiyah bukan keturunan Alawiyyah. Sebab terpenting adalah mendapatkan kekuasaan. Dan bagi orang-orang yang disebut sebagai Fatimiyah mendapatkan kekuasaan adalah mudah.”[2]

Sejarah mencatat Dinasti Fatimiyyah adalah sebuah kerajaan yang berideologi Syi’ah, lebih tepatnya syi’ah Ismailiyyah. Syi’ah Ismailiyyah adalah sekte terbesar kedua dalam Syi’ah dan hanya mengakui tujuh orang imam, yaitu : 1) Ali Ibn Abi Thalib, 2) Hasan Ibn Ali, 3) Husein Ibn Ali, 4) Ali Zainal Abidin, 5) Muhammad Al-Baqir, 6) Ja’far Al-Shiddiq, 7) Ismail Ibn Ja’far.[3] Penisbatan kepada Imam Isma’il inilah mereka dinamakan Isma’iliyyah.[4]  Karena Ismail adalah Imam ketujuh, aka disebut juga Al-Sab’iyyah.[5]

Khalifah-Khalifah Pada Masa Dinasti Fatimiyyah

Khalifah-khalifah dinasti Fatimiyyah secara keseluruhan ada 14 orang:

1.     Ubaydillah al-Mahdi (909 M – 934 M).

2.     .Al-Qa’im Muhammad Abul-Qasim (934 M - 946 M).

3.      .Abu Zahir Isma’il al-Mansur billah (946 M – 953 M)

4.      Abu Tamim Ma’ad al-Mu’izz li-Dinillah (953 M – 975 M).

5.      Abu Mansur Nizar al-’Aziz billah (975 M – 996 M).

6.      Abu ‘Ali al-Mansur al-Hakim bi Amrullah (996 M- 1021 M).

7.      Al-Zhahir Ali Abu al-Hasan (1021 M – 1036 M)

8.      Abu Tamim Ma’add al-Mustansir bi llah (1036 M – 1094 M)

9.      Al-Musta’li bi-llah (1094 M – 1101 M).

10.  Al-Amir bi-Ahkamullah (1101 M-1130 M).

11.  ‘Abd al-Majid al-Hafiz (1130 M-1149 M).

12.  Al-Zafir (1149 M – 1154 M).

13.  Al-Fa’iz (1154 M - 1160 M).

14.  Al-’Adid (1160 M – 1171 M).

Sejarah Berdirinya Lembaga Pendidikan Tinggi Al-Azhar

Pada masa Dinasti Fatimiyyah mulailah didirikannya sebuah pusat penyebaran ajaran syi’ah yang disebut dengan al-Jami’ al-Azhar al-Qahirah, Mesjid ini dibangun oleh Panglima Jauhar Assiqili di Kairo atas perintah khalifah Muiz. Universitas ini dibangun untuk menganut mazhab syi’ah Ismailiyyah. Pada awal berdirinya masjid ini diberi nama Jami’ul Qahirah karna mengambil nama tempat universitas tersebut didirikan, belakangan, namanya diubah menjadi Al-Azhar diambil dari nama  Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Jamal ad-Din Surur dalam kitab tarikh ad-Daulah al-Fathimiyyah :

أما تسميته بالجامع الأزهر، فيظهر أنها أطلقت عليه في عصر العزيز بعد إنشاء القصور الفاطمية التي كان يطلق عليها اسم القصور الزاهرة (فاطمة بنت الرسول).[6]

 

    Kemunculan Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tinggi bermula ketika Khalifah al-Mu’iz Lidinillah pada tahun 362 H/973 M memindahkan ibu kota Daulah Fatimiyah daro kota Qirawan (Tunisia) ke kota Al-Qahirah (Kairo/Mesir), dan pada tahun 975 M ia meresmikan berdirinya perguruan Al-Azhar.[7]

 

 

 

Sistem Pendidikan pada Lembaga Pendidikan Tinggi Al-Azhar

Tujuan Al-Azhar

Universitas Al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyah merupakan lembaga pendidikan yang menjadi alat untuk propaganda kekuasaan kekhalifahan sekaligus sebagai alat penyebaran Doktrin Syi’ah.[8] Mahmud Yunus mencatat bahwa ada 5 tujuan dari Universitas Al-Azhar ketika itu:

1.      Mengemukakan kebenaran dan pengaruh Turas (peradaban) Islam terhadap kemajuan ummat manusia dan jaminannya terhadap kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

2.      Memberikan perhatian penuh terhadap peradaban ilmu, pemikiran dan keruhanian bangsa arab islam.

3.      Menyuplai dunia Islam dengan ulama-ulama aktif yang beriman.

4.      Mencetak ilmuan agama yang aktif dalam semua bentuk kegiatan, karya, kepemimpinan dan menjadi contoh yang baik.

5.      Meningkatkan hubungan kebudayaan dan ilmiah dengan universitas dan lembaga ilmiah Islam di luar negeri.[9]

Para Pendidik di Al-Azhar

Pada tahun 365 H/975 M untuk pertama kalinya dimulai kegiatan ilmiah dalam bentuk kuliah-kuliah yang diberikan oleh Abu Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Nu’man al-Qairani yang menjabat sebagai hakim tertinggi (qadhi al-qudat), dengan materi yang diajarkan mengenai fiqh syari’ah yang terdapat dalam kitab al-ikhtisar.[10] Ada ulama yang sangat rajin mengajarkan mazhab Syi’ah adalah Ibn Killis. Diantara ulama yang cukup terkenal sebagai pengajar di Al-Azhar ketika itu adalah Al-Aqabah Abu Ya’kub al-Khandaq. Menurut catatan Salah Zaimeche bahwa Ibnu An-Nurul dan Ibn Khaldun juga ikut serta menjadi pengajar di Universitas Al-Azhar sampai akhir abad keempat.[11]

Perubahan Ideologi di Al – Azhar

Pada masa akhir masa kejayaan Fatimiyah, Kairo hampir jatuh ke tangan pasukan Kristen dalam perang Salib. Beruntung Salahuddin al – Ayyubi, seorang panglima perang dari Kurdi berhasil menghalaunya. Sejak saat itu, Salahuddin mendeklarasikan kekuasaannya dibawah bendera Dinasti Ayyubiyah. Ketika Salahuddin mengambil alih kekuasaan Fatimiyah, sang sultan mengambang di Dinasti Ayyubiyah yang berdiri disamping Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang semakin lemah. Sultan Salahuddin tidak menghancurkan Kairo yang dibangun oleh Dinasti Fatimiyah. Dia malah melanjutkan pembangunan Kairo dengan semangat yang sama. Hanya Salahuddin mengubah paham keagamaan negara dari Syi’ah menjadi Sunni.[12]

Kesimpulan

Dari uraian diatas kita bisa mengambil beberapa intisari yang sangat menakjubkan, Dinasti Fatimiyah ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan peradaban Islam, terutama dengan adanya al-Jami’ al-Azhar al-Qahirah di Mesir yang dibangun pada masa khalifah Al-Mu’izz Lidinillah yang banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan. Akan tetapi tujuan utama dari berdirinya adalah sebagai tempat penyebaran aqidah Syi’ah Ism’iliyyah. Pada masa akhir masa kejayaan Fatimiyah, Salahuddin Al – Ayyubi berhasil merebutnya dan mengubah ideologi masyarakat Mesir dan Universitas tersebut, yakni dari Ideologi Syi’ah ke Sunni.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran: Perkembangan Modern Dalam Islam. Jakarta: Rajawali Press, 1998.

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Jaya Murni, 1971.

 

Asriati Amaliyah, Eksistensi Pendidikan Islam di Mesir pada Masa Daulah Fatimiyah, dalam Lentera Pendidikan, Vol. XVI.

 

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Hidyakarya Agung, 1990.

 

Salah Zaimeche, Cairo (United Kingdom: FSCT Limited, 2005.

 

Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiah . Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.

https://m.republika.co.id/berita/p7tst2313/kairo-dari-dinasti-fatimiyyah-hingga-sultan-salahuddin. Dikutip pada tangga, 04 desember 2022 pukul 19.51 WIB

 

طبعي محمد حسين، الميزان في تفسير القرآن. إيران: مؤسسة إسماعيلية.

 

أحمد آمين، ظهر الإسلام. بيروت: دار الكتاب العربي.

 

محمد جمال الدين سرور، تاريخ الدولة الفاطمية .مدينة: دار الفكر العربي.



[1]Yusuf Al-Isy, Dinasti Abbasiah (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar), h. 222 

[2]Ibid.

[3]Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Jaya Murni, 1971), hal 176

[4] طبعي محمد حسين، الميزان في تفسير القرآن (إيران: مؤسسة إسماعيلية، 1371ه)، ص. 78

[5] أحمد آمين، ظهر الإسلام (بيروت: دار الكتاب العربي)، ص. 127

. [6]محمد جمال الدين سرور، تاريخ الدولة الفاطمية (مدينة: دار الفكر العربي)، ص. 67

[7]Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran: Perkembangan Modern Dalam Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1998), h. 200

[8]Asriati Amaliyah, Eksistensi Pendidikan Islam di Mesir pada Masa Daulah Fatimiyah, dalam Lentera Pendidikan, Vol. XVI, h. 105

[9]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Hidyakarya Agung, 1990), h.174

[10]Abdul Sani, Lintasan, h.200

[11]Salah Zaimeche, Cairo (United Kingdom: FSCT Limited, 2005), h. 10







Komentar

Tampilkan

Terkini