Aceh Belum Mampu Mengolah Sampah Untuk Produk Industri Dan Pertanian

Kamis, 13 April 2023, April 13, 2023 WIB Last Updated 2023-04-15T01:17:37Z

 

 

 


https://youtube.com/shorts/Jf9O38aRrK8

Gunung Sampah TPA Blang Bintang


Ibarat gadis cantik yang jorok begitulah  perumpamaan yang paling tepat untuk menujukkan kebersihan lingkungan di Aceh. Hampir tidak ditemukan pemukiman bersih di propinsi yang menerapkan Syariat Islam ini.

 

Meskipun hadist Rasulullah menyebutkan kebersihan sebagian dari iman, sepertinya hanya menjadi sebuah slogan saja, yang sulit dilakukan oleh masyarakat Aceh. Buktinya sampah berserakan di mana-mana, mulai dari pinggir jalan, saluran air, bahkan sungai dijadikan lokasi pembuangan sampah.

 

Pembuangan sampah tidak hanya dilakukan di pemukiman saja, ke tepi pantai, ke laut, ke danau juga menjadi lokasi favorit membuang sampah untuk masyarakat Aceh. Pastinya seluruh bumi Aceh adalah tempat mendaratnya semua sampah.

 

Sampah Rumah Tangga Dibuang Ke Saluran Air

 

Nah kalau kondisinya sudah seperti itu, adakah lokasi di Aceh yang terbebas dari persoalan sampah? Hingga layak disebut desa yang bersih? Jawabnya hampir tidak ditemukan lokasi lingkungan yang bersih di Aceh.

 

Memang faktanya ada pemukiman yang mendekati lingkungan yang bersih, seperti Desa Bandar Baru (Lampriet), Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Di desa ini di depan setiap rumah disediakan tempat pembuangan sampah oleh Kelurahan.

 

Sepintas terlihat pemukiman Lampriet memang bersih, tetapi lihatlah ke saluran pembuang yang berada disisi jalan. Di depan dan di belakang rumah warga, bau menyengat dengan air kehitaman dari got yang terkadang susah mengalir menjadi pemandangan lazim.


 

Pemukiman Desa Bandar Baru (Lampriet).

 

Lampriet menjadi satu-satunya kawasan pemukiman di Aceh yang memiliki tingkat pemahaman terhadap kebersihan lebih tinggi dari kawasan lain. Tradisi buang sampah sembarangan tidak ada lagi di desa ini, warganya selalu membuang sampah pada tempatnya.

 

Lampriet juga memiliki tingkat kebersihan lingkungan yang agak lebih baik, karena di depan dan di belakang rumah warga  memiliki saluran pembuang air, yang terkoneksi ke seluruh desa.

 

Kebersihan lingkungan Lampriet tidak terlepas dari tingkat pendidikan warganya, karena di desa ini dihuni oleh para pejabat dimasa Gubernur Ali Hasyimi memegang tampuk  kekuasaan di Aceh. Merekalah yang melahirkan generasi-generasi terdidik Aceh sekarang, yang mengerti bagaimana mengelola kebersihan lingkungan.

 

Lalu adakah kawasan lain yang memiliki kebersihan lingkungan lebih baik? Melihat sejarahnya ada pemukiman karyawan PT. Arun Lhokseumawe, yang boleh dikatakan sebagai kawasan, dengan tingkat kebersihan lingkungan mendekati standar kebersihan negara maju.

 

Diluar  itu Aceh adalah planet penampung sampah yang sulit dicarikan tandingannya di seantero bumi.

 

Lalu mengapa masyarakat Aceh terbiasa hidup dengan lingkungan yang kotor. Semua itu tidak terlepas dari peran pemerintah yang juga mengelola lingkungan dengan kotor, sebut saja perusahaan air minum Tirta Daroy. Mereka juga mengalirkan air yang mereka sebut air bersih, dalam keadaan keruh, kotor, bahkan terkadang berlumpur hitam ke rumah warga.

 

Kalau pemerintah saja pemahaman kebersihan lingkungannya seperti itu, bagaimana pula dengan rakyat? Tentu lebih buruk! Masyarakat Aceh terbiasa membuang sampah ke halaman belakang   rumah mereka, hanya halaman depan rumah saja yang terlihat bersih.

 

Kebiasaan membuang sampah di belakang rumah itu terkadang mereka bawa saat  merantau. Misalnya mereka menempuh pendidikan di Dayah, maka sampah-sampah akan dibuang di belakang kamar asrama santri, bertimbunlah sampah di bagian belakang Dayah.



                             Kotoran Sapi Ditumpuk 

Di belakang Rumah Warga

 

Tradisi buang sampah ke belakang rumah adalah warisan turun temurun masyarakat Aceh. Kelakuan ini sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari mereka, jadi sulit sekali mengubahnya.

 

Peran pemerintah dalam menghadirkan lingkungan yang tidak bersih juga berperan sangat besar.  Puluhan mobil pembuang sampah setiap hari beroperasi membuang sampah warga Kota Banda Aceh ke TPA Kampung Jawa dan Blang Bintang.

 

Sepintas sampah di kawasan perkotaan dan pemukiman memang menghilang, tetapi sampah itu berpindah ke TPA dengan menebar bau busuk dan tumpukan sampah menggunung. Belum lagi sepanjang jalan yang dilewati truk pengangkut sampah berceceran di jalan.

 

Belum cerdasnya pemerintah dalam mengelola sampah, menjadi penyebab lingkungan di Aceh belum bersih. Seharusnya semua sampah yang berasal dari bahan makanan diproses menjadi pupuk, lalu sampah plastik dan metal lainnya diproses menjadi bahan baku industri, sehingga tidak menumpuk gunungan sampah di TPA.

 

Pemerintah seharusnya menyediakan tong penampung sampah di depan setiap rumah penduduk. Berupa tong sampah yang berbeda untuk menampung semua sampah sisa makanan, sampah plastik, sampah metal dan sampah kayu lainnya.

 

Pengelolaan sampah yang benar tidak hanya akan membuat lingkungan Aceh menjadi bersih, tetapi menjadi rahmat bagi petani dan penikmat tumbuhan.  Dengan pemberian pupuk gratis yang diproses dari sampah sisa makanan.

 

Pemerintah juga mendapat keuntungan dengan menghasilkan sampah plastik dan metal menjadi bahan baku industri. Semua produk sampah itu bisa dijual ke pabrik-pabrik di Indonesia.

 

Pengelolaan sampah yang benar akan membuat lingkungan kita bersih kembali. Dan itu harus dimulai dari pemerintah, yang akan menjadi contoh kepada masyarakat Aceh, yang hidup terkucil di atas pulau yang terhampar di atas samudra ini.

 

Tarmizi Alhagu

Komentar

Tampilkan

Terkini

Seputar%20Nanggroe

+